POCIMEDIA.COM | Di suatu kota tinggal seorang anak yang bernama Umar berusia 10 tahun. Umar lahir dari keluarga kaya dan memiliki ayah seorang pebisnis yang mengelola suatu perusahaan, sehingga setiap hari waktunya dihabiskan untuk bekerja dan tidak memiliki waktu untuk bermain dengan Umar. Umar menempuh pendidikan di sekolah Internasional dan tiap hari berangkat ke sekolah diantar oleh Ibu dan sopirnya. Suatu ketika sekolah Umar untuk pertama kalinya mengadakan acara “Fathers Day” yaitu acara yang mewajibkan setiap siswa menunjukkan keterampilan atau bakatnya di atas panggung dengan disaksikan oleh ayahnya. Ibu Umar ketika mengetahui ada acara “Fathers Day” akan diselenggarakan oleh pihak sekolah, meminta kepada suaminya untuk bersedia datang dan menyaksikan penampilan Umar. Namun, ayah Umar menolaknya dan justru menyuruh istinya untuk datang menyaksikan penampilan Umar. Ibu Umar tentu menolaknya dan menyakinkan suaminya bahwa teman-teman Umar tentu akan mengejek Umar karena dianggap tidak mempunyai ayah karena yang datang justru Ibunya. Akhirnya, dengan terpaksa ayah Umar menyetujui untuk hadir dalam acara “Fathers Day.”

Penyelenggaraan acara “Fathers Day” akhirnya dimulai di hari yang telah ditentukan. Ayah Umar datang namun lebih memilih untuk duduk di belakang dengan tujuan ketika Umar selesai tampil, bisa langsung pergi meninggalkan tempat dan kembali ke kantor. Teman-teman Umar satu persatu mulai tampil di atas panggung, ada yang bernyanyi, menari, membaca puisi, dan lain-lain. Tiba waktunya bagi Umar untuk tampil di atas panggung, namun sebelum menunjukkan penampilannya Umar meminta kepada pembawa acara untuk memanggil guru agama yang sekaligus guru mengaji di sekolah. Seketika Ayah Umar sempat kaget karena yang dipanggil bukan dirinya justru orang lain yang tidak memiliki hubungan darah, namun Ayah Umar tidak beranjak dari tempat duduk dan ingin melihat penampilan Umar. Begitu guru agama naik ke atas, Umar menyatakan kepada pembawa acara apabila dia akan menampilkan hafalan surat An-Naba. Umar meminta kepada guru agamanya untuk mengecek hafalannya. Setelah melantunkan surat An-Naba, tiba-tiba pembawa acara bertanya kepada Umar alasan kenapa menampilkan hafalan Surat An-Naba berbeda dengan teman-teman lainnya pada umumnya yang bernyanyi, menari, atau membaca puisi. Umar kemudian menjawab karena memperoleh pembelajaran dari guru agama bahwa apabila dirinya bisa menghafal Al Qur’an maka Umar bisa memberikan mahkota di akhirat untuk kedua orang tuanya.

Umar menganggap ayahnya begitu sibuk, pekerjaannya luar biasa, mencari rizki buat saya, berangkat pagi-pagi sekali dan pulang sudah dalam keadaan gelap. Tetapi walaupun rizkinya banyak namun Umar selalu merasakan terpisahkan dengan ayahnya sehingga dengan menghafal Al Qur’an maka dirinya dapat memberikan mahkota bagi ayahnya di akhirat dan tidak ingin dipisahkan lagi dengan ayahnya di surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayah Umar yang duduk di bagian belakang sendiri begitu mendengar penjelasan Umar segera beranjak dari tempat duduknya untuk menuju atas panggung. Umar diangkat oleh ayahnya dan dipeluknya sambil menangis.

Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).

Sungguh saat kita mendekat kepada Allah, maka kita tidak perlu takut kehilangan dunia. Sahabat nabi yang kaya yaitu Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang rajin Tahajjud dan menghafal Al Qur’an tidak kehilangan dunianya karena ikhlas mendekatkan diri kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here