Contributed Image by Stalktr.net

POCIMEDIA.COM – Bulan kemerdekaan telah berlalu, namun hingga kini masih menyisakan cerita. Jika dahulu, peringatan kemerdekaan diisi dengan kegiatan-kegiatan positif, seperti baris-berbaris, lomba-lomba yang mengedepankan karakter kebangsaan serta karnaval yang mengusung budaya-budaya bangsa, jelas sangat kental unsur-unsur semangat nasionalisme di dalamnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, nilai-nilai dalam peringatan hari kemerdekaan bangsa ini telah tergerus adanya budaya baru yang entah dari mana datangnya dan apa relevansinya dengan peringatan hari kemerdekaan. Melalui sebuah media sosial, didapati ungkapan hati seseorang (anonim) akan fenomena ini, yang mungkin mewakili banyak suara masyarakat di luar sana, ungkapan tersebut adalah sebagai berikut:

“Saya tidak mengerti ini siapa yang memulai, kenapa bisa begini? Bagaimana gelombang glerr menjadi tsunami yang membidik semua hendak dihanyutkan bersama.

Okey bukan salah soundsystemnya, tapi kita manusialah yang salah, kita ini terbiasa tidak mengilmui apa yang kita ikuti, suka berlebihan dan lalai akan nikmat yang kita miliki.

Bagaimana tidak? Kita ini aneh, sebuah ritual musik super keras memekakkan telinga, diiringi ajeb-ajeb berjamaah, sebagian menambahnya dengan mabuk-mabukan, keliling kampung, kita pertontonkan pada anak-anak dan remaja, Anehnya yang tidak mengerti pada nonton juga, emak-emak pada bawa balita bahkan bayinya hanya sekedar karena penasaran. Kita ini sedang mengajarkan apa pada anak kita? Kejadian bayi meninggal dah tidak lagi dihiraukan, jiwa kita udah kerasss tak peduli.

Yang lebih aneh lagi mengatasnamakan budaya ini dalam rangka merayakan kemerdekaan, duh ndahneo sedihnya para pejuang kalau mereka tau generasi yang mereka perjuangkan dengan taruhan nyawa dan aliran darah cuma jadi budak musik begini.

Sekedar renungan dan sedikit pengetahuan, banyak diantara serdadu penjajah itu dulu pulang dalam keadaan depresi, nurani mereka tersayat melihat darah bangsa indonesia yang mengalir dari pelatuk senapannya. Bisa kita bayangkan situasi saat itu, rakyat indonesia, pejuang kita maju ke medan perang seperti setor nyawa saking pengennya merdeka dari kesewenang-wenangan dan pedihnya penjajahan. Mereka bertaruh nyawa demi siapa? Demi kita, anak cucunya! Demi kehidupan kita saat ini…

Pertanyaannya, bagaimana kondisi kita sekarang? Apakah kita sedang dalam posisi yang benar dalam mengisi kemerdekaan? sesungguhnya mau kita jadikan apa generasi kita?

Hanya ingin sekedar duduk memikirkan rasa cinta pada negri dalam bentuk yang lebih romantis dan berhati nurani, tidak sekedar teriak NKRI harga mati.”

Mari para generasi penerus bangsa kita renungkan, apakah hal ini sudah dianggap benar??, jadilah warga negara yang cerdas, kekinian dan adaptif, namun tanpa menghilangkan jiwa nasionalis, kebangsaan dan adab ketimuran yang menjadi identitas bangsa mu.

MERDEKAAAAAAAA…………….. @eko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here