sumber: google

POCIMEDIA.COM | Jakarta –  Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkap alasan  sentral sulit memangkas suku bunga acuan. Menurutnya, keputusan tersebut perlu memperhitungkan sejumlah hal, salah satunya inflasi. Rendahnya suku bunga, semakin banyak pihak yang meminjam uang dan memicu peningkatan jumlah uang beredar. Kondisi itu berisiko mengerek inflasi.

Selain inflasi, menurut Erwin, juga memperhitungkan porsi dana dari pihak asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup besar, yaitu 37 persen. Begitu juga dana milik pihak asing di pasar modal porsinya mencapai 50 persen

SBN merupakan surat pengakuan utang yang telah dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara. Apabila nilai tersebut rendah akibat suku bunga yang kecil, otomatis pendapatan negara pun berkurang sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi.

Erwin  juga mengatakan BI juga harus memakai dan membandingkan nilai suku bunga Indonesia dengan negara berkembang lainnya seperti India, Filipina dan Malaysia. Sebab, dengan suku bunga acuan yang lebih rendah, otomatis imbal hasil yang diberikan Indonesia akan rendah.

Melihat porsi asing yang tinggi di SBN, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan BI akan fokus mencoba menstabilkan kondisi dengan menaikkan porsi domestik.

“Oleh karena itu, pemerintah dan BI mengajak surat berharga retail, mengajak dana pensiun, asuransi untuk meningkatkan proporsi domestiknya,”

Pada tahun ini, bank sentral sendiri sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali dengan total 100 bps. Terakhir kali, pada September 2019, BI memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke posisi 5,25 persen. Tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility juga turun ke 4,75 persen dan 6,25 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here