Sore belum lagi beranjak, ketika Anton menyadarkanku dari lamunan, yang hampir membuatku terperosok dalam kali kecil di hadapanku.
“daeng” teriaknya sembari menarik tas punggungku, Aku tersentak, dan segera menghentikan langkahku.

“kenapa daeng?” tanya anton
“tidak apa-apa” jawabku singkat

Dibantu Anton, aku mengangkat seluruh barang-barang bawaanku keatas kapal laut, yang akan membawaku meninggalkan kampung halamanku, Makassar, kampung halaman yang telah menyisakan rasa sakit.

***

“Halo, Ton” ucapku, setelah kulihat panggilanku via HP diterima oleh Anton.
“Iye Daeng” jawabnya
“Bagaimana keadaan disana” tanyaku
“Baik Daeng” jawabnya singkat, namun kutemukan nada sumbang pada jawaban itu, tidak biasanya Anton, berbicara singkat seperti itu, dan tekanan nada suaranya serasa menyembunyikan sesuatu.
“yakin” tanyaku lagi
“iye … daeng. Kapan pulang?” jawab sekaligus tanya yang dilepaskan oleh Anton kepadaku.
“2 hari lagi, saya sudah tiba di Makassar Ton” jawabku
“Iye Daeng, kujemputki nah, jam berapaki rencana tiba ye” (terj. Iya kak, saya nanti yang menjemputmu,rencana jam berapa tiba kak)
“sekitar jam 11 malam”
“iye, saya jemputki” (terj. iya, saya yang jemput)
“ya sudah, jemput memangka” (terj. ya sudah, jangan lupa jemput saya) tandasku
“Iye Daeng” (terj. iya kak)

***

“Kenapa lewat sini Ton” tanyaku pada anton yang sedang berkonsentrasi pada laju kendaraannya, sesaat setelah memasuki kotaku. Sendiri, Anton menjemputku di Bandara Hasanuddin Makassar, setelah kuhabiskan beberapa minggu waktuku di Ibukota Jakarta.
“Tidak apa-apa Daeng, kita nginap di rumahku Daeng” jawab Anton, tenang, tapi di pandanganku, lebih berarti berusaha tenang. Hal ini kuperhatikan sejak di Bandara tadi, Anton seakan-akan berusaha tenang, entah apa yang disembunyikan sahabatku ini, walau bertanya keras dalam hati, saat ini aku memilih diam, agar dia yang memulai pembicaraan soal ketidak tenangannya.

Perlahan Pajero Sport yang kutumpangi, memasuki halaman luas milik Anton, dan di beranda rumah Anton, kulihat beberapa orang berdiri melihat mobil ini tiba.

Aku segera menyeruput kopi hitam yang telah hangat,yang tersedia di meja, sementara sahabat-sahabatku yang lain terdiam di kursi masing-masing.

“Ada yang mau kami bicarakan daeng” tukas Lukman, sesaat setelah keheningan menerpa kami.
“hmmm” aku hanya mendehem singkat
“Daeng …” panggil Lukman
“Iya luk, ada apa?” sergahku

Lukman memutar pandangannya kepada yang lainnya, dan kulihat jelas, satu persatu mereka mengangguk.

“Anu daeng …” ucap lukman namun patah
“apa luk?” tanyaku
“Anu, bisa tidak, pernikahanmu di batalkan saja” ucapnya pelan, aku tersentak kaget
“maksudnya?” tanyaku dengan nada tinggi
“kalian tau kan, pernikahan ini sudah direncanakan dari 3 bulan lalu, semua sudah selesai, uang panai tidak sedikit, kalian tau itu, 120 juta” lanjutku dengan nada semakin meninggi.

Wajah Lukman memucat, juga yang lainnya, Anton bergerak menjauhiku.

“Begini Daeng …” Ahmad angkat bicara
“Apa !!!”
Ahmad menghela nafas panjang sesaat, sebelum berucap
“ada yang terjadi di 3 bulan perjalananmu Daeng, dan itu memaksa kami, untuk meminta agar Daeng batalkan pernikahan ini” ujar Ahmad, kembali, berusaha tenang.
“Cerita Ahmad, detail” ucapku keras
“Fandi mana” tanyaku, sesaat sebelum Ahmad berbicara
“ini semua ada hubungannya dengan Fandi dan Yuni” ucap Ahmad
“jelaskan Mad” ucapku semakin tinggi

Bersambung

____________

daeng = bahasa makassar, sulawesi selatan yang berarti kakak atau panggilan untuk yang lebih tua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here