FOTO Istimewa

POCIMEDIA.COM | PURWOKERTO – Geliat dan semangat pergerakan akan musik Jamaika di Purwokerto sepertinya tidak benar-benar menyusut, hal tersebut dibenarkan dengan ramainya acara bertajuk Jamaican Camp yang digagas oleh Jamaican Roots & Culture Community (JRCC) Purwokerto, Sabtu (26/10/2019) dan Minggu (27/10/2019) lalu di Green Stone Baturraden.

Sekitar 40 tenda yang disediakan pihak penyelenggara bahkan sold out jauh hari sebelum acara berlangsung, bahkan tidak sedikit dari audience yang datang harus membawa dan membangun tenda sendiri di area yang sudah disediakan. Tidak hanya personal yang menyukai musik Jamaika, tapi juga keluarga turut andil dalam gelaran yang pertama kali diadakan oleh JRCC Purwokerto ini.

“Acara ini sebenarnya sudah lama direncanakan, tapi baru terealisasi pada 2019 ini dengan sisa semangat yang masih ada untuk terus pergerakan musik Jamaika,” kata pegiat JRCC Purwokerto, Fathon Kusuma.

Meski pertama dilaksanakan oleh JRCC Purwokerto, diharapkan dapat menjadi agenda rutin serta tempat silaturahmi yang nyata bagi pecinta musik Jamaika dengan komunitas lain. Karena disitu satu sama lain dapat lebih berinteraksi baik di tenda maupun luar tenda dengan lebih intim.

Peserta camping juga dapat memasarkan produknya berupa album maupun merchandise bagi band dan musisi, atau apapun yang sekiranya dapat diperjual belikan tanpa ada tambahan selain biaya sewa tenda di tempat acara. “Silakan saja untuk band yang sudah punya album untuk membuka lapak, karena ini merupakan acara kita bersama,” ujar Fathon.

Jalannya Acara Dimulai pukul 15.00 WIB para peserta camping sudah dipersilakan untuk melakukan daftar ulang lalu selanjutnya boleh langsung menempati tenda yang sudah disediakan. Untuk fasilitas tenda hanya matras yang dipergunakan sebagai alas, sedangkan kebutuhan lain dipersiapkan sendiri oleh peserta.

Tidak sedikit dari mereka yang membawa perlengkapan tidur lengkap mulai bantal, guling, maupun selimut dan juga sleeping bed. Antara peserta keluarga maupun personal yang menyukai musik Jamaika semuanya membaur seakan tidak ada pembatas, bahkan antara peserta dengan band penampil yang mengisi panggung minimalis dengan sedikit hiasan bambu serta dipenuhi daun bambu yang kering diatas panggung.

Satu persatu band penampil menunjukan aksinya mulai dari Bandokar, Lodse dan ditutup oleh Voodska pada sore hari dengan daftar lagu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Memasuki break maghrib, peserta camping semakin banyak dan berbagai persiapan lain dilakukan untuk memaksimalkan area pertunjukan dengan lampu warna-warni.

Gerimis memang sempat turun di sekitaran Green Stone Baturraden, kekhawatiran nampak dari semua panitia apabila nantinya hujan yang dipastikan pertunjukan musik pun akan batal. Namun kekhawatiran tersebut sedikit melega saat gerimis reda dan set panggung yang sempat ditutup terpal kembali dibuka dan penampil pertama di malam hari yaksi Sanssystem mulai merapikan meja untuk memanaskan suasana dengan track list ska dan early reggae.

Bumble Bee melanjutkan sebagai band kedua yang tampil dengan karya mereka sendiri, meski tidak diisikan personil lengkap namun tidak menyurutkan semangat mereka dan beberapa personil band lain diajak untuk lebih bangkitkan semangat peserta camping yang mulai bergoyang mengikuti alunan musik. Tidak lama, Sozper tampil dengan beberapa lagu reggae hits Indonesia seperti Hitam Putih milik Cozy Republik dan Republik Sulap milik Tony Q Rastafara.

Tiba saat berbagi cerita dengan talkshow yang menghadirkan beberapa narasumber seperti perwakilan Bumble Bee dan Lodse yang sudah menciptakan album, lalu ada rekanan Scooter Owner Baturraden (Sobat) yang bercerita tentang koneksi vespa dan musik Jamaika, ada juga perwakilan KYLCK yang jauh dari Majenang, kemudian Lij Imam yang mewakili JRCC Purwokerto, serta Reno Rolander sebagai pemerhati musik di Purwokerto.

Adulesencia tampil usai talkshow yang dimoderatori oleh Burik dari AMPSKP, kemudian salah satu penampil yang paling ditunggu yakni Jhony Freedom membuat suasana semakin panas. Beberapa lagu dari album Introspek dan dari album kedua yang akan dirilis 2019 ini dibawakan dengan peserta camping turut serta ikut bernyanyi.

Yang berbeda dari seluruh penampil dengan unsur ska, rocksteady, keroncong milik Orkes Reol Serayu dengan beberapa lagu milik Didi Kempot membuat peserta camping menjadi sobat ambyar, hampir seluruh peserta turun dan ikut bernyanyi. Beberapa daftar lagu tambahan harus dibawakan mereka karena keinginan peserta camping. Akhirnya, pertunjukan ditutup oleh penampilan kembali Sanssystem.

Keesokan harinya dibuka oleh Deejay set Lucky Sans membangunkan peserta camping dilanjutkan Jamming Session, kemudian penampilan KYLCK asal Majenang, lalu Pandora dan ditutup kembali dengan Jamming Session dan foto session. Berakhirnya Jamaican Camp 2019 ini menjadi pemantik untuk event serupa dikemudian hari dengan tempat baru dan konsep yang lebih matang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here