POCIMEDIA.COM | SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya bersama Forum Guru Besar Indonesia (FDGBI) menyelenggarakan Musyawarah dan Seminar Internasional FDGBI IV yang termasuk serangkaian dari kegiatan Dies Natalis Unesa ke-55.

Acara yang dilaksanakan di Hotel Golden Tulip Surabaya itu menghadirkan guru besar baik dari luar dan dalam negeri, diantaranya Prof Drs. Koentjoro, MBSc, Ph.D., Prof. Dr. Koh Young Hun, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A., Prof. Dr. Haris Supratno, Prof. Kamaruddin Said, Asst. Professor Siripu Maneechukate, serta Endina Asri Widratama.

Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A., menuturkan berdasarkan rekomendasi munas antar profesor kegiatan ini terlaksana sebagai bentuk menyatukan bahasa melayu melalui berbagai aspek. Untuk itu Unesa ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan melaksanakan musyawarah internasional yang membahas bahasa indonesia melayu sebagai bahasa ilmiah internasional.

Pertemuan ini dikemas dalam bentuk musyawarah internasional pada 4 sampai dengan 7 November 2019 yang dilaksanakan di Unesa, serta melibatkan berbagai guru besar dari berbagai Negara seperti Malaysia, Korea selatan, Thailand, dan Singapura. Pada forum ini diikuti 154 guru besar dari 31 delegasi perguruan tinggi.

Sementara itu menurut Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M. Kes., mengatakan bahwa forum ini sangat luar biasa karena menghadirkan para cendekiawan dalam bidang kebahasaan. Menurutnya dengan terselenggaranya forum ini dapat menjadi momentum dalam keeksistensian bahasa Indonesia-Melayu untuk berperan dalam dunia internasional.

“Bahasa Indonesia di negara lain sudah banyak dipelajari. Beberapa waktu yang lalu Unesa sangat mendukung saat kunjungan ke Ceko memberikan pembelajaran gratis bagi mahasiswa belajar Bahasa Indonesia,” ungkap rektor.

Rektor berharap melalui forum guru besar ini dapat memberikan sumbangsih untuk memperbaiki Sumber Daya Manusia dalam hal percepatan guru besar.

Ketua Dewan Guru Besar Indonesia (DGBI), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., menyatakan keamanan negara ternyata tidak bisa disepelekan. Dalam hal ini bahasa dapat dijadikan kunci dalam suatu mempererat hubungan antar negara. “Apalagi yang berikutnya menyangkut MEA (Masalah Ekonomi Asean) yang mau tidak mau nanti akan kita butuhkan.

Karena orang Indonesia bisa bekerja ke Malaysia dan tukar menukar disitu kita butuhkan bahasa untuk mempersatukan melalui cara berkomunikasi. Kita upayakan agar bahasa Indonesia atau Nusantara menjadi bahasa ilmiah Internasional,” tuturnya.

Ia juga menambahkan forum ini hasil diskusinya akan dilimpahkan ke Mendikbud sebagai upaya membantu guru besar meraih gelar profesor agar mudah menembus jurnal terindeks scopos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here