PERKARA OTT WALI KOTA MEDAN, MENUTUPI EKSES DANA NONBUDGET KE JEPANG

sumber : istimewa

POCIMEDIA.COM | Medan – Perjalanan dinas dalam rangka kerja sama sister city antara kota Medan dan Kota Ichikawa di Jepang sekitar Juli 2019 lalu, membuat Tour dan Travel menagih dana perjalanan kepada Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin ke Jepang.

Hal ini disebabkan, Dzulmi Eldin turut membawa istri, dua anak dan beberapa orang yang tidak berkepentingan dalam perjalanan dinas ini. Bahkan dia dan rombongan pribadinya memperpanjang waktu tinggalnya di Jepang selama 3 hari di luar masa dinas Wali Kota. Inilah yang mengakibatkan munculnya pengeluaran perjalanan dinas yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan tidak dapat dibayar menggunakan dana APBD.

Alhasil untuk menutupi ekses dana nonbudget perjalanan ke Jepang yang mencapai Rp800 juta, Dzulmi meminta bantuan Syamsul Fitri Siregar, Kepala Bagian Protokol Pemerintah Kota Medan yang mendampingi keluarga Dzulmi sewaktu di Jepang. Syamsul pun kemudian membuat daftar kepala dinas yang akan dimintai kutipan. Dalam daftar tersebut bukan hanya kepala dinas yang ikut ke Jepang saja, namun yang tidak ikutpun dimintai uang oleh Syamsul.

Salah satu kepala dinas yang terkena kutipan meskipun ia tidak ikut, yaitu Isa Ansyari, yang baru saja diangkat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP) Kota Medan, ia ditarget menyerahkan dana sebanyak Rp250 juta. Dalam hal ini, Isa telah mentransfer uang tersebut pada 15 Oktober 2019, menggunakan rekening kerabat Aidil Putra Pratama, yang tercatat sebagai salah satu ajudan Dzulmi. Setelah itu, uang tersebut diserahkan kapada Andika yang merupakan sesama ajudan Dzumi juga. Andika kemudian menyimpannya di ruangan bagian protokoler. Sedangkan untuk Rp50 juta lagi, Andika harus mengambilnya sendiri di rumah Isa.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00 WIB, Andika datang ke rumah Isa untuk mengambil uang yang akan ditujukan untuk Dzulmi. Tanpa sadar, penyidik KPK telah memantau seluruh aktivitas tersebut. Seusai pengambilan uang tersebut, penyidik KPK sempat menghentikan mobil yang dikemudikan Andika. Namun, Andika bergeming dan tidak mau turun dari mobil setelah penyidik KPK menunjukkan kartu identitasnya, ia justru memundurkan mobilnya, memacunya dengan kecepatan tinggi hingga nyaris menabrak para penyidik KPK.

Malam itu, Andika memang gagal diamankan. Namun, beberapa tersangka lainnya berhasil diamankan, beserta uang tunai Rp 200 juta yang disimpan di ruang protokoler. Berdasarkan hasil gelar perkara, KPK menetapkan 3 orang tersangka, yakni Dzulmi dan Syamsul diduga sebagai penerima suap, serta Isa diduga sebagai pemberi suap. @sam_witama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: