Contributed Picture By Infomadiunraya.com

POCIMEDIA.COM | Ponorogo - Ponorogo.....yah Ponorogo....kota yang selalu aku rindukan. Selain mengingatkan kepada almarhum Ayah, Kota ini juga memiliki budaya dan ciri khas yang Kuat. Di kota ini terdapat budaya legendaris yakni kesenia REOG Ponorogo yang mendunia, kemudian di Kota ini juga terdapat salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia yakni Pondok GONTOR. Tidak hanya itu, dari bidang kuliner tidak kalah tenar pula ada SATE KHAS Ponorogo.

Tapi, buka karena tiga legenda diatas menjadi perhatianku setiap kali menginjakkan kaki di tanah Ponorogo, apakah itu?....dia adalah kuliner DAWET di Desa Jabung. Kenapa harus Dawet, dan Kenapa Harus di Desa Jabung?.....jangan salah kawan....dengan mendapatkannya, anda tidak sekedar dapat mengobati rasa haus dan lapar, melainkan juga dapat mempelajari Sejarah Kota Ponorogo dan Desa Jabung.

Saya Ulas dulu seperti apa gambaran Dawet nya ya biar tidak penasaran. Dawet Jabung ini berbeda dari dawet ayu banjar negara atau lainnya. Dawet Jabung ini berisi santan, garam, dan gula aren yang biasanya dicampur dengan nangka sehingga menambah kelegitan dari gula aren itu. Kemudian isiannya adalah tape dari ketan hitam, cendol dari tepung aren dan nangka. Harganya cukup murah lo bila anda membeli di Desa Jabung, sekitar Rp. 3.000,- an saja per porsinya. Lokasi penjual Dawet yang paling "Legend" disana adalah Stand "BU SUMINI", yang berada di perempatan Desa Jabung.

Yang menarik kalau membeli Dawet dan langsung dimakan di tempat, Penjual akan memberikan dawetnya kepada anda melalui sebuah tatakan. Namun anda harus mengambil mangkuknya saja. Karena menurut tradisi atau kepercayaan yang beredar desa tersebut, bila seorang pria meminta tatakannya berarti pria itu berniat menyunting penjualnya, dan bila penjualnya menyerahkan tatakan, berarti penjual bersedia dinikahi. Tapi, itu hanya tradisi loooo....., tapi ada juga yang benar-benar terjadi (pada saudara saya sendiri hehehe)

Konon kemahsyuran dawet Jabung berkaitan erat dengan legenda warok Suromenggolo, yang terkenal sakti mandraguna dan merupakan tangan kanan Raden Bathoro Katong (Pendiri dan Bupati Pertama) yang juga anak dari Prabu Brawijaya V. Diceritakan, suatu hari Warok Suromenggolo terlibat perang tanding melawan Jim Klenting Mungil yang menguasai gunung Dloka dan mempunyai pusaka andalan yaitu Aji dawet upas. Konon, ajian ini berbentuk cendol dawet yang terbuat dari mata manusia. Terkena ajian dawet upas seketika tubuh warok Suromenggolo menderita luka bakar dan ia pingsan seketika.

Warok Suromenggolo akhirnya ditolong oleh seseorang penggembala sapi bernama Ki Jabung. Setelah diguyur dawet buatan Ki Jabung, seketika luka yang diderita Warok Suromenggolo sembuh, bahkan dapat mengalahkan Jim Klenting Mungil dan Jim Gento. Sebagai ungkapan terima kasih, Warok Suromenggolo bersabda, kelak masyarakat desa Jabung akan hidup makmur karena berjualan dawet, dan itulah kenapa di Desa Jabung hingga saat ini banyak sekali di jumpai masyarakat yang berjualan dawet.

Nah....sudah taukan sejarahnya dan tradisi menariknya....Jadiiii...............untuk para Jomblowers....kalau sudah capek menjomblo, silahkan datang ke Desa Jabung, untuk membeli dawet....kalau di kasih dawet beserta tatakannya, segera diminta aja....hehehe, tapi sebelum itu pastikan dulu kalau penjualnya perempuan dan masih single ya.....Ingat Dawet yang paling enak dan paling tua disana adalah yang berada di perempatan Jabung yaaaa.....namanya Depot Dawet "Bu SUMINI". Selamat mencoba dan membuktikan. @eko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here