INDONESIA DAN KEKAYAANNYA

foto: google

Sejak dahulu Indonesia berperan penting dalam produktivitas international, jika dahulu adalah rempah-rempah yang membuat bangsa Eropa berbondong-bondong datang ke Indonesia yang merubah arti penting peta dunia. Kini Kekayaan alam Indonesia yang melimpah berperan penting sebagai pendukung perputaran roda perubahan dan kemajuan dunia.  Akan tetapi kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak dibarengi dengan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Gas alam dan batu bara Indonesia adalah penompang industri yang ada di Asia, khususnya Cina, Jepang, Korea Selatan dan berbagai negara di Asia lainnya. Akan tetapi kekayaan sumber daya alam melimpah yang menjadi kebanggaan kita dan berfungsi sebagai penopang industri negara lain, sehingga Indonesia hanya menjadi unsur pelengkap saja. Kita hanya terlena dalam kebanggan atas sumber daya alam yang melimpah, kita akan lebih bangga jika jika kekayaan sumber daya alam digunakan secara maksimal untuk bangsa kita adalah nilai lebih bagi industri bangsa dan bukan jadi unsur pelengkap saja.

Selain sumber daya alam Indonesia yang terkeruk dan terancam akan kehabisan sumber kekayaan alam. Seperti sumber daya pertambangan dan energi berbasis fosil yang tidak bisa diperbarui dan akan habis dengan jangka waktu sesuai tingkat produktivitas. Sayangnya kekayaan alam yang begitu besar kita belum menjadi bangsa yang sejahtera dari kekayaan alam yang kita miliki.

Indonesia dahulu adalah anggota OPEC (pengekspor minyak). Kenapa saat ini Indonesia adalah pengimpor minyak? Terlalu banyak sumber kekayaan kita yang tidak bisa dirasakan oleh bangsa kita, minyak yang terkandung ditanah Indonesia tidak cukup memenuhi kebutuhan nasional. Terkuras habisnya sumber daya alam kita, dan menyisakan lubang-lubang bekas tambang yang tersisa dan sampah-sampah sisa pertambangan yang jadi warisan Indonesia.

Kekayaan alam yang luar biasa, seperti potensi emas yang ada di Timika, Papua. Pada awalnya, tambang emas terbesar didunia itu adalah gunung yang berkilau cahaya dan kini menjadi lembah cekung dengan lubang yang sangat besar menjorok kedalam. Betapa potensi alam yang luar biasa dengan eksploitasi bangsa asing, gunung disulap menjadi lubang yang teramat besar.

Fakta sejarah mengajarkan bahwa sebuah bangsa akan hancur jika menyia-nyiakan  sumber daya yang dimilikinya. Tapi apakah kita sudah belajar dari sejarah?, Negara Cina sangat mengetahui akan hal itu, oleh karena itu negara dengan ekonomi terkuat di Asia sangat berhati-hati dan selektif dalam mengekplorasi kekayaanya. Cina juga memiliki sumber daya alam di tanah mereka, akan tetapi kebijakan Cina dalam ekonomi juga selektif apalagi bersentuhan dengan sumber daya alam.

Kekayaan sumber daya yang ada di Cina adalah sebagai cadangan, sedangkan untuk keperluan kebutuhan negeri akan sumber daya alam adalah dengan mengimpor dari negara yang menjual kandungan perutnya. Karena dengan mengimpor, secara tidak langsung mengamankan cadangan yang dimilikinya dan itu sangat terbatas. Dengan mengimpor seperti gas alam dan batu bara juga diefektifkan untuk dibuat cadanagan dengan cara ditumpuk, kebijakan yang tak beresiko pada kerusakan alam.

Cina sekarang merupakan kekuatan ekonomi terbesar bersaing dengan negara Amerika. Perang dagang antara Amerika dan Cina sehingga keduanya bersitegang karena persaingan bursa dagang international. Kebijakan ekonomi Cina saat ini juga luar biasa, selain menerapkan kebijakan moneter konvensional, dengan menyimpan devisa dolar Amerika, Cina juga membeli berton-ton emas sebagai cadangan devisanya karena negara Cina percaya bahwa kedepan bahwa cadangan emas akan lebih kuat daripada dolar Amerika, dan cadangan devisa dolar Amerika milik Cina terbesar saat ini di dunia, bahkan jauh diatas Amerika sebagai pemilik dolar.

Kini saatnya Indonesia belajar dari sejarah, apakah yang sudah di lewati berbagai peristiwa oleh bangsa kita masih belum juga belajar?. Pentingnya sejarah pada kehidupan bangsa kita maupun bangsa lain dalam proses berbenah akan menjadikan kekuatan untuk menjamin kehidupan masa yang akan datang menjadi Bangsa yang cerdas. Oleh karena itu, pemimpin dan generasi bangsa mencermati keadaan yang ada di dunia ini sebelum keterpurukan datang kembali.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*