Sumber Google

Tubuh merupakan Fetish dan Erotisme bagi laki-laki dan juga perempuan. Masyarakat yang produktif dengan mengandalkan kreativitas yang tertanam di dalam diri manusia, kini telah berganti menjadi masyarakat yang Konsumtif, masyarakat yang didorong untuk menemukan diri mereka di dalam barang-barang yang di iklankan media untuk menjadi komoditi besar dalam upaya memperoleh keuntungan secara kapital. Bagi laki-laki, seksualitas perempuan terwujud pada tubuh yang seksi, langsing, putih, dan ideal sesuai dengan konstruksi marketing industri yang perlu dipasarkan untuk bisa dikonsumsi secara massal. Sedangkan bagi perempuan, seksualitas perempuan berada pada proses menuju tubuh yang seksi, langsing, putih dan ideal, yaitu dengan produk-produk yang di tawarkan oleh iklan untuk mewujudkan tubuh ideal. Kenapa mereka sampai kepada pemahaman tentang seksualitas? Karena iklan yang mendoktrin dengan sugesti sehingga imajinasi untuk tertarik kepada mode ideal yang harus terpenuhi, bahwa dengan hanya iklan ditemukan pada apa yang harus dikonsumsi, bukan apa yang dihasilkan. Sedangkan untuk menemukan diri laki-laki dan perempuan harus mengkonsumsi barang-barang yang hanya bisa mereka dapatkan dari iklan. Laki-laki menemukan diri mereka dari gambaran tubuh perempuan yang disediakan media iklan, sedangkan diri perempuan ditemukan dari berbagai macam produk kosmetik dan perawatan tubuh untuk memenuhi ekspektasi seksual para laki-laki.

Tidak ketinggalan sorotan kepada artis. Apalagi kalau bukan kecantikan dan tubuh molek nan seksi mereka yang lebih memilih menjual dari pada intelektualitas seorang perempuan. Berbagai lensa kamera dari media seperti yang ada dilayar Tv, layar Youtube, Instagram seakan di takdirkan untuk tertuju pada tubuh para artis tersebut. Gambar-gambar yang disorot lensa kamera itu sudah mampu ditafsirkan oleh para netizen yang budiman, Tidak lain adalah seksualitas, karena dengan seksualitas yang akan laku di pasar Indonesia. Sekaligus menjadi komoditi besar penghasil surplus ekonomi yang sebanding dengan menjual komoditi dari sumber daya alam. Dengan judul yang seksis sekali sorot berjuta mata melirik, netizen menjadi marketing tanpa bayaran demi berbagi link untuk menarik mata netizen lainnya. Maha benar netizen dengan segala pikiran seksis yang menjadi algoritma bagi netizen lainnya.
Tidak heran jika tubuh seksual para artis menjadi sorotan media acara diseluruh stasiun Tv atau chanel Youtube. Seksualitas dirasa menjadi kondisi dunia kerja laki-laki menjadi sebuah destinasi rekreasi untuk menghilangkan penat dalam otak atas rutinitas kerja yang menyibukkan. Cinta yang melambangkan ketidaksempurnaan diri, seperti ada sesuatu yang kurang lengkap pada tubuh dan harus segera dilengkapi. Budaya iklan untuk meningkatkan konsumerisme dalam menawarkan sebuah ketidak sempurna dalam diri setiap orang yang harus dilengkapi untuk menjadikannya lebih sempurna. Seksualitas pada perempuan merupakan sebuah kehilangan yang harus segera ditemukan, sedangkan perempuan, bertemu kehilangan ketika tidak mendapatkan perhatian khusus dari laki-laki. Ini merupakan transisi dari efek pemenuhan diri yang imajiner menuju simbolik. Imajinasi yang seksis diciptakan iklan berupa tubuh perempuan yang ideal sebagai simbol bagian ketidaksempurnaan yang hilang dari diri setiap pelaku konsumen. Fenomena ini menjadi sebuah keanehan, masyarakat berusaha melengkapi sesuatu yang kurang lengkap dalam diri dengan menjadikan sesuatu yang di luar dirinya sebagai pelengkapnya, seperti seksualitas pada perempuan, kosmetik dan alat kecantikan lainya. Tipu daya iklan menjadikan masyarakat bersenang-senang atas keterasingan yang sejatinya mereka alami yang seharusnya menjadi keprihatinan bagi setiap orang yang merasakannya.

Devaluasi perempuan dan usaha menjadikannya bernilai dalam Pesona kecantikan para artis yang seolah menjadi kabut bagi perempuan, di waktu yang sama banyak orang yang sedang berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Standar kecantikan telah menjadi standar kelayakan perempuan untuk diliput oleh media, mendapat follower dan like berjuta-juta. Tidak ada alasan lain selain komoditi menguntungkan media, seluruh tubuh perempuan adalah komoditi yang akan menghasilkan pundi-pundi dolar yang teramat sayang untuk sekadar dilihat. Sedangkan banyak perempuan yang sedang berjibaku dengan terik matahari demi mempertahankan hidup, terkhusus pemerintah bahwa kecantikan biodiversiti lingkungan yang perlu mendapat perhatian, bagi media itu tidak memenuhi standar ideal kecantikan perempuan. Masyarakat sudah terlanjur terpuaskan oleh pesona perempuan yang terlumuri bahan-bahan kimia diwajahnya, lipstik di bibirnya, pakaian anggun dan mahal yang menyelimuti tubuhnya, sepatu dengan kilatan sempurna yang menghiasi kakinya.

Standarisasi pesona kecantikan dengan menghadirkan wacana baru perihal kecantikan. Yang seharusnya media banyak mengusung masalah alam, pendidikan, dan sosial yang kian hari di eksploitasi besar-besaran karena alam, pendidikan, dan sosial adalah sebagai cermin kemajuan intelektualitas. Pesona kecantikan yang dihadirkan oleh iklan merupakan kombinasi eksploitasi alam, ekonomi, politik dan media yang menjadi wacana sempurna untuk merubah arti feminisme itu sendiri. Mengatasnamakan kebebasan yang diinginkan perempuan di ruang publik, hadirnya iklan seolah membantu perempuan untuk memperoleh otoritas tubuh yang erotis. Apakah dengan adanya iklan penggunaan produk kecantikan perempuan memiliki otoritas atas kesucian tubuh yang diperjuangkan oleh feminisme? Semua itu merupakan kebebasan palsu seorang perempuan, tubuh mereka terbelenggu dalam wacana kebebasan konsumsi yang sebenarnya mendorong para perempuan untuk saling menjatuhkan dan berlomba-lomba untuk mencapai standarisasi kecantikan yang di katanya adalah kebebasan perempuan seutuhnya.

Apakah para artis merepresentasikan feminisme atas kebebasannya dalam mengekspresikan tubuh? Kapital mengadopsi kebebasan perempuan tetapi tidak dengan perawatan alam yang sejatinya adalah kecantikan. produktivitas perempuan tradisional berada pada alam di sekitar mereka, seperti sawah, pegunungan, atau laut, perempuan tradisional kehilangaan sumber identitas mereka yang juga akan mempengaruhi pada relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Jangan berpikiran bahwa kapitalis hanya menyerang perempuan kelas atas dan perkotaan, mereka juga menyerang perempuan tradisional dengan eksploitasi alam untuk menggantikan gaya hidup tradisional dengan gaya hidup modern. perempuan desa digiring ke pusat modern dan perkotaan untuk meninggalkan daerah asalnya atas dasar pekerjaan yang sebenarnya di sanalah bahan baku kecantikan berada.

Perempuan menjadi pelanggan setia dari produk yang di tawarkan iklan. Efek domino antara permintaan pasar yang direspon kapitalis dengan mengekspansi wilayah ekstraksi daerah pinggiran untuk memenuhi permintaan pasar. Negara dan korporat merupakan perkawinan haram yang menghasilkan perusakan lingkungan dengan iming-iming kesejahteraan bagi masyarakat. Kapitalis membeli feminisme hanya tubuh perempuan saja dan memotong bagian lain yang tidak bisa dimanfaatkan, seperti kepedulian terhadap lingkungan, minoritas sosial dan seksual. Persaingan perempuan bukanlah seperti yang dihadirkan oleh iklan kecantikan, tapi pada kebersamaan perempuan dalam menganalisa bagian tubuh feminisme apa lagi yang akan dipotong serta usaha apa yang efektif untuk melawan iklan yang merajalela. Jadi sudah cukup jelas di mana letak nilai perempuan dan dimana yang tidak bernilai untuk memetakan apa yang harus diperjuangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here