foto : dr. Sukma Sahadewa, Ketua LKNU Surabaya

POCIMEDIA.COM | Surabaya – Melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 Tahun 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN).
Di tahun ke-5 banyak tokoh yang mengusulkan Hari Santri Nasional dijadikan hari libur nasional, salah satunya Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Surabaya, Dr. Sukma Sahadewa.

Sebagai salah satu tokoh di NU, Sukma Sahadewa mengaku bersyukur atas penetapan HSN. Sebab, hal itu bentuk pengakuan pemerintah terhadap peran santri dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

“Saya mendorong ke depan Hari Santri ini bisa menjadi hari libur nasional atau tanggal merah sebagaimana Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei,” tutur pria yang akrab disapa Dokter Sukma itu, usai Upacara Hari Santri di Tugu Pahlawan Surabaya, Selasa (22/10).

Kader muda NU penggagas program Bakti Subuh ini mengungkapkan, dengan menjadi hari libur nasional maka para santri dan alumni santri bisa ikut merayakan Hari Santri Nasional. Sebab, banyak di antara mereka yang hari ini tidak bisa merayakan HSN karena harus masuk kerja atau kuliah.

Dirinya berharap para santri, alumni santri hingga masyarakat umum bisa merayakan hari santri dengan kegiatan yang bermanfaat tanpa terhalang pekerjaan. Dengan begitu hari santri bisa dirayakan dengan suka cita.

“Dengan menjadi hari libur nasional, maka para santri dan masyarakat bisa Ikut merayakan Peringatan Hari Santri. Tentunya ini juga bentuk penghargaan kepada para santri atas jasa mereka pada negeri ini,” urai Sukma.

Kandidat calon kepala daerah di Pilkada Kabupaten Kediri 2020 ini juga berharap pemerintah memasukkan materi tentang resolusi jihad ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah. Hal ini bukan saja untuk meluruskan sejarah tapi sekaligus agar para siswa sebagai generasi penerus mengetahui sejarah bangsa.

Sukma mengingatkan, tanpa resolusi jihad maka tak akan ada peristiwa 10 Nopember yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Karena itu, antara Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan tak bisa dipisahkan.

“Para santri berbondong-bondong terjun ke medan perang karena adanya resolusi jihad yang dimaklumatkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Karena itu, fakta sejarah ini harus diungkap dan disampaikan lewat buku sejarah yang diajarkan di sekolah maupun madrasah,”pungkas pria kelahiran Pare, Kediri tersebut. (nw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here