ESTETIKA YANG DI PERKOSA

foto: google

Banyak yang bertanya tentang bagaimana alam ini diciptakan,
Estetika yang memuncak pada panorama dalam pandangan mata
Menari di pelupuk dengan cantiknya,
Langit yang terhampar biru diatas ubun-ubun manusia
Menambah estetika dengan rias mahkotanya.

Indah saat mata memandang,
Takjub saat rasa syukur mampir dengan segelas nikmatnya,
Bagaimana kita membayangkan berada di puncak gunung
Menjamah dimensi alam yang suci
Seakan kita mulai tahu jati diri sendiri
Saat berjuang melewati terjal batu dan tanah setapak
Yang disebelah kanan dan kiri adalah jurang.

Berada pada dimensi alam
Menjamah argumentasi yang penuh kesibukan
Seakan lepas dari segala lara,
Jauh dari hiruk pikuk kota yang seakan menyita harapan pada jiwa yang butuh ketenangan,
Itulah kenyataannya bahwa estetika yang menjamah rasa
Menyentuh lembut melalui pandangan mata
Mengubur penat yang hinggap pada kesibukan yang mengubah arah tujuan.

Lihatlah dengan mata,
Rasalah dengan hati mulia,
Bahwa keindahan adalah nurani yang hadir karena tugasnya,
Memupuk kemurnian dengan hijaunya,
Alangkah bahagianya saat manusia berteriak lantang untuk menjaganya.
Estetika yang selalu tersenyum kepada manusia,
Menerima tanpa mengusirnya
Meskipun eksploitasi terus memperkosa
Mengambil sari-sari didalamnya
Membinasakan setiap makhluk yang dijaganya.

Sungguh manusia tanpa nurani
Merusak dengan dalih menjaganya,
Keuntungan menjadi tujuan hidupnya
Kerakusan yang nyata saat alam diam dengan bertahan untuk menjaga indahnya,

Saat alam murka semua yang ada porak poranda,
Tinggal sisa-sisa beton yang pecah,
Jalan aspal terbelah,
Air laut menjadi gunung yang goyang menerjang segala yang ada didepannya
Melumat habis segala yang manusia banggakan.
Saat gunung memuntahkan perutnya batu kerikil terbang kemana-mana,
Abu vulkanik yang mengotori semuanya,
Balasan yang tepat pada eksploitasi yang semakin garang dan kejam.

Logika globalisasi yang selalu menggores estetika
Dengan menebang segala tumbuhan,
Merubah tanah menjadi pabrik-pabrik yang besar
Memproduksi hasil rampasan dari alam.
Sungguh kejam,
Alam dipaksa untuk memenuhi kebutuhan besar,
Diolah secara menyakitkan,
Estetika hilang asalnya
Dirubah menjadi ladang perbudakan,
Para pemodal yang tertawa karena keuntungan.

Sungguh sial nasib alam
Yang hanya bisa diam dan pasrah saat mulai datang besi-besi besar
Merusak atas dasar suruhan,
Besi berjalan memuat hasil rampasan,
Ada kesalahan dalam paham kehidupan.
Seberkas mentari yang membakar,
Saat hijau daun berganti kaca-kaca bertingkat
Memantulkan cahaya kontras yang penuh kemunafikan,
Pemukiman tergusur karena pemodal membeli peraturan.

Korupsi besar-besaran saat pedagang mulai masuk perpolitikan,
Lahan negara terjual masuklah para investor internasional,
Terjajah atas dasar keuntungan
Kebijakan yang menguntungkan pemodal
Bekerja sama dengan imprealisme wajah baru,
Perang dagang memaksa semuanya laku terjual,
Sampai-sampai manusiapun dijual untuk melayani bangsa pemilik uang,
Atas dasar perut kenyang harga diri hilang karena alat tukar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*