sumber: google

Prancis, mengingatkan penulis pada jalan yang terhampar panjang sejauh 1000 km, dari Anyer sampai Panarukan yang kita kenal sebagai Jalan Pantura. Jalan Pantura merupakan bagian dari sejarah kelam bangsa indonesia yang menumpahkan darah dan air mata akibat kerja paksa pemerintah penjajah pada masa itu. Kenapa Prancis? saat invansi Napoleon menguasai kerajaan Belanda sehingga seluruh tanah jajahan Belanda masuk dalam kekuasaan Kerajaan Prancis termasuk Indonesia.

Herman Willem Daendels, nama yang tidak asing bagi rakyat Indonesia, nama itu kemudian diabadikan sebagai nama jalan yang ada di pesisir jawa dengan panjang 1000 km. Jalan Daendels yang kita kenal dengan Jalan Pantura, nama Daedels sendiri merupakan Gubernur Jenderal di Indonesia sebagai perpanjangan kekuasaan Napoleon di Indonesia, dengan menunjuk Daendels sebagai Gubernur Jenderal yang ada di Indonesia. Pada masa itu Prancis dan Inggris merupakan kekuatan dunia yang menguasai hampir sepertiga dunia.

Untuk menjaga kekuasaan di Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels membangun jalan sepanjang Pulau Jawa untuk menghalau serangan dari Inggris. Sampai saat ini jalan Daendels yang biasa kita kenal sebagai jalan Pantura menjadi sisa peninggalan sejarah dan saksi bisu perjuangan nenek moyang kita yang dipaksa bekerja (kerja rodi) untuk membangun sebuah jalan yang panjangnya 1000 km. Kita bisa bayangkan bagaimana mereka dipaksa, di cambuk, di siksa, bahkan banyak yang menjadi korban kekejian saat pembangunan jalan Pantura tersebut.

Sampai saat ini jalan Pantura merupakan jalan utama yang menghubungkan antar provinsi, dan antar Kabupaten, sudah 74 tahun Indonesia merdeka, jalan Pantura masih digunakan sebagai akses utama, karena minimnya pembangunan insfratuktur jalan. fakta jalan daendels adalah pembangun jalan yang memakan ribuan korban, meskipun bisa dibilang genosida namun pembangunan monumental menjadi bukti sejarah tentang perjuangan nenek moyang kita pada masa itu. Pemerintahan yang singkat selama 3 tahun (1808-1811) akan tetapi dengan tangannya, Daendels membangun kekuatan ekonomi dan kekuasaan yang efektif sehingga akses sumber pangan ataupun dalam penjagaan wilayah antar pos yang berdiri di sepanjang 1000 km bisa merata dan terkomunikasi.

Setelah memaparkan sejarah pembangunan jalan pantura, sekarang mari kita mengamati bahwa pembangunan jalan raya di Indonesia khususnya Jawa adalah sisa-sisa pembangunan jalan oleh penjajah, terutama jalan yang di bangun oleh Herman Willem Daendels. Begitu juga jalur kerata api yang melingkar di pulau jawa merupakan sisa-sisa pembangungan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada masa itu. Sisa-sisa peninggalan yang dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi akses transportasi, minimnya pembangunan insfratuktur sehingga pemerintah membangun jalan dan rel kereta bekas penjajah untuk di manfaatkan dan juga mengurangi biaya yang ada.

Pembangunan Insfratuktur pada masa pemerintahan Presiden Jokowi yang meluas sampai ke penjuru negeri memakan baiaya yang luar biasa itupun di bantu oleh pembangunan bebas hambatan atau jalan tol oleh pihak swasta yang saat kita melewatinya dengan berbayar. Dengan bantuan pinjaman luar negeri Presiden Jokowi membangun insfratuktur ke penjuru negeri yang juga meningkatnya utang Indonesia kepada IMF sehingga dampak positif dan negatif dihadapi masyarakat Indonesia. Saat selesai pembangunan Insfratuktur pemerintah harus berpikir untuk mengembalikan pinjaman yang telah di habiskan untuk pembangunan insfratuktur yang merata ke penjuru negeri. Inilah pembangunan ala pemerintahan Daendels baru, kalau Daendels memakan korban dan sekarang memakan utang, perjuangan berat saat dihadapakan dengan pembangunan jalan dan inilah fakta yang di hadapi masyarakat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here