Warning: include(consig.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1

Warning: include(): Failed opening 'consig.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php70/usr/share/pear') in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1
Gaduh soal Puisi Sukmawati, Ini Kritik Para Petinggi Negara
No icon

Gaduh soal Puisi Sukmawati, Ini Kritik Para Petinggi Negara

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Pocimedia.com, Jakarta - Deretan bait puisi diatas sempat dilantunkan oleh puteri presiden pertama Republik Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri dan menuai polemik masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, di awal bait  dibuka dengan kalimat ‘Aku tidak tahu syariat Islam’.

Bukan hanya itu, puisi Sukmawati juga menyebut-nyebut tentang adzan dan cadar. Alhasil, bukannya mendapat pujian, puisi ‘Ibu Indonesia’ itu malah jadi perbincangan netizen di jadad dunia maya.

Karya sastra itu dibacakannya dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Sukmawati diberi kesempatan maju ke panggung dan membacakan puisi karyanya sendiri.

Rupanya bukan hanya netizen, khususnya kalangan umat Islam, beberapa jajaran petinggi negara pun turut bersua menanggapi kalimat kontrobersial tersebut. Pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera, mengkritik dan menyatakan adanya dugaan pelanggaran.

"Saya mendapatkan video itu tadi pagi. Sudah saya cermati ada mengenai azan dan cadar, menurut saya ada dugaan kuat mendiskreditkan agama," ujar, Kapitra Ampera kepada wartawan, dilansir dari detik.com, (3/4).

Menurut Kapitra, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan adzan dengan Kidung Pancasila. Azan yang merupakan panggilan untuk ibadah, lanjut Kapitra, tidak bisa dibandingkan dengan hal lain.

Sementara itu Waketum Gerindra, Fadli Zon ikut angkat bicara. Dia menyebut seharusnya hal yang menyinggung isu sensitif dihindari, karena dapat menimbulkan kegaduhan.

"Seharusnya semua yang berbau perbedaan itu tidak bolehlah dijadikan sebagai (sarana) menyudutkan orang lain. Apalagi yang sensitif, seperti persoalan agama, suku, dan sebagainya. Itu kan sangat sensitif," kata Fadli.

Pimpinan DPR lainnya, Taufik Kurniawan juga berpendapat mengenai puisi Sukmawati. Dia menyesalkan puisi tersebut karena dianggap berpotensi menimbulkan konflik. Taufik menilai puisi tersebut bisa menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu. Ini disebabkan puisi Sukmawati itu menyinggung syariat agama, apalagi membawa adzan dan cadar.

"Kita berharap untuk Ibu Sukmawati agar lebih berhati-hati dalam berkarya dan ketika menyampaikan kepada publik. Saat ini, semua rentan terprovokasi," imbuh Taufik.

Puisi Sukmawati pun menimbulkan reaksi dari tokoh agama. Ustaz Felix Siauw bahkan membalas puisi itu dengan membuat puisi berjudul 'Kamu Tak Tahu Syariat'. "Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti," demikian kutipan puisi Ustaz Feliix yang ia posting melalui akun Facebook-nya, Ustadz Felix Siauw, Senin (2/4).

Dalam puisinya, Felix memang tidak menyebut tentang puisi Sukmawati. Namun poin-poin kunci yang diulas Felix dalam puisinya merupakan hal yang ada di puisi putri proklamator Sukarno itu.

Sukmawati sudah memberi klarifikasi mengenai puisinya yang menuai kontroversi. Dia menyebut, puisinya itu merupakan opini dari realita yang ada tanpa bermaksud menyinggung soal masalah SARA.

"Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam, seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain," jelas Sukmawati saat dimintai konfirmasi.

Menurut Sukmawati, puisi yang ditulisnya menggambarkan realitas di Indonesia. Dia mengatakan apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur. "Lho Itu suatu realita, ini tentang Indonesia. Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita," tuturnya.

Sukmawati lalu bicara soal tuduhan pembanding-bandingan azan dengan kidung 'Ibu Indonesia' yang dipersoalkan Kapitra Ampera. Puisi yang dibacakannya disebut sebagai sebuah opini.

"Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati. Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar," tuturnya.

Komentar