No icon

Santri Moderat, Pendamping Ideal Jokowi di Pilpres 2019

Pocimedia.com, Surabaya - Meski 2019 masih sekitar 10 bulan lagi, namun beberapa partai politik di Indonesia mulai menyiapkan segala sesuatunya. Tak terkecuali dengan Presiden RI saat ini, Joko Widodo. Pasalnya orang nomor satu di Indonesia itu digadang-gadang akan maju ke periode ke-2 tahun 2019 mendatang.

Beberapa kalangan menyarankan agar Jokowi bisa mempertimbangkan kalangan santri sebagai pendampingya di pilpres 2019. Karena kalangan santri dianggap bisa menutupi kelemahan Jokowi dalam segmentasi pemilih tertentu.

Menurut pakar komunikasi politik Emrus Sihombing, kalangan santri yang pas adalah kalangan Islam moderat. "Santri tengah, moderat, yang menghargai pluralisme, cinta Indonesia, dan sepakat dengan Pancasila," kata Emrus dilansir dari laman Media Indonesia (12/2).

Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) telah merilis tiga nama kalangan santri calon pendamping Jokowi di Pilpres 2019. Mereka adalah Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romy), dan Gubernur NTB M Zainul Majdi. Bagi Emrus, Romy dan Cak Imin memiliki peluang yang sama kuat.

"Dua tokoh ini punya peluang yang sama jadi pasangan Jokowi. Saya harus mengkaji lagi jika harus menyebutkan nama," ujarnya.

Sama halnya dengan Emrus, Direktur Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago juga menyarankan agar Jokowi memilih cawapres dari kalangan santri. Selama ini Jokowi dinilai sudah cukup kuat dari segi pencapaian pembangunan infrastruktur. Faktor itu dinilai jadi penyumbang besar segmentasi pemilih kalangan nasionalis. "Harus mengambil representasi umat, santri tadi. Untuk menutupi kelemahan dia," ujar Pangi.

Direktur Eksekutif LSNI Yasin Mohammad juga memasukkan kalangan santri moderat sebagai salah satu indikator kriteria ideal pendamping Jokowi. Santri kalangan moderat bisa diterima semua kalangan. Cawapres Jokowi juga harus berintegritas dan memiliki rekam jejak bersih. Jokowi juga tidak boleh memilih pendamping yang berpotensi menyanderanya di masa mendatang.

"Figur itu ialah cawapres ideal bagi Jokowi menghadapi Pilpres 2019," ucap Yasin.

Yasin mengatakan fenomena psikologi massa yang ada sekarang menunjukkan popularitas, akseptabilitas, dan kepuasan kinerja tidak selalu linier dengan elektabilitas. Isu negatif tentang Jokowi dapat membentuk psikologi massa dan sangat mungkin mematikan Jokowi. "Sekali lagi saya katakan cawapres dari kalangan santri sangat ideal mendampingi Jokowi," kata Yasin.

Sementara itu, untuk kalangan di luar santri, ada dua nama yang muncul, yakni Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan dan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Namun, peluang keduanya relatif kecil masuk bursa cawapres 2019. Sebab, keduanya bukan berasal dari partai.

"Sehingga bukan pengambil keputusan di partai. Butuh effort luar biasa agar bisa diusungkan partai politik," kata Emrus.

Menurut Emrus, PDI Perjuangan butuh upaya keras jika ingin memasangkan Jokowi dan Budi Gunawan. Dirinya meragukan partai koalisi pendukung pemerintah mau menerima Budi Gunawan. "Karena paslon (capres atau cawapres) biasanya harus diusung partai," jelas Emrus.

Begitu pula dengan Gatot. Emrus menilai Gatot bukan tokoh yang saat ini memiliki kekuatan di partai politik. Ia juga belum melihat ada partai yang serius bakal menggandeng Gatot dan diajukan menjadi pedamping Jokowi di Pilpres 2019. "Namun, perkembangan politik bisa berubah memang," jelas Emrus, mediaindonesia.com (12/2).

Komentar