No icon

Sosmed, Gerbang Utama Penyebaran Radikalisme

Jakarta, pocimedia.com - Beberapa tahun belakangan, Indonesia dihadapkan pada beragam permasalahan. Salah satunya menyangkut persoalan persatuan NKRI. Media kemudian dianggap berperan penting dalam menggaungkan isu radikalisme kepada masyarakat. Beberapa konten di media elektronik dan online bahkan secara terang-terangan menyajikan tontonan yang tak patut dikonsumsi oleh khalayak, karena kontennya sarat dengan hal-hal berbau radikalisme.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS UMS) menyimpulkan bahwa website dan media sosial cenderung dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pandangan radikalisme dan kekerasan yang ekstrim. 

Ketua Peneliti PSBPS Yayah Khisbiyah menjelaskan mengenai perbedaan radikalisme dan ekstrimisme. Menurutnya, radikalisme adalah pendapat dan perilaku yang menyukai perubahan ekstrim terutama di pemerintahan: gagasan dan perilaku politik yang radikal. Sementara ekstrimisme adalah kepercayaan dan dukungan untuk gagasan yang sangat jauh dari apa yang dianggap benar dan beralasan. Lebih lanjut dia juga menyatakan keprihatian bahwa media sosial cenderung digunaan untuk menyebarluaskan pandangan radikalisme dan kekerasan ekstremis. “Karena tujuan utk mencapai masyarakat adil mungkin bisa tidak tercapai.Cara kekerasan itu jarang memberi kedamaian yang sustainable,” ujarnya.

Anggota tim peneliti, M. Subkhi Ridho, menemukan kecenderungan bahwa pengguna media sosial didominasi oleh laki-laki. Jumlahnya sekitar 60-70 persen. Mereka cenderung mendukung dan menolak wacana terorsme. Ia menjelaskan kecenderungan motif pembuatan situs adalah keinginan pengguna untuk mengkritisi pemerintah. “Ada juga untuk menghentikan hoax, meskipun banyak yang menghentikan hoax justru menimbulkan hoax,” ujarnya.

Studi tersebut mengambil 17 situs web sebagai sampel dengan total sampel sebanyak13 informan terpilih dan wawancara 10 pengelola website. “Ini karena waktu terbatas, apalagi isunya sensitif,” kata Yayah. Beberapa situ organisasi Islam mainstream digunakan seperti web Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Wathan. Situs organisasi Islam kontemporer seperti FPUI, Hidayatullah, Dewan Dakwah, MMI, dan MTA juga dijadikan objek penelitian. Selain itu terdapat situs organisasi Islam unaffiliated juga menjadi objek penelitian yang rencananya dirilis pada awal Desember 2017 ini.

Komentar