No icon

Atasi Kelangkaan Air dengan Gel Silika

Pocimedia.com, Surabaya – Memasuki musim kemarau panjang, beberapa negara di dunia mengalami masalah kekeringan. Saking keringnya, keberadaan air bersih menjadi sangat langka. Padahal air merupakan kebutuhan utama manusia untuk tetap bertahan hidup.

Untungya ada teknologi baru yang bisa menangani masalah krisis air. Seorang ilmuwan Australia yang juga menjadi finalis dalam kompetisi berskala internasional, XPRIZE, menciptakan ide mengatasi krisis air di dunia dengan menggunakan gel silika. Lulusan ahli Teknik Kimia dari Universitas Newcastle itu mengemukakan bahwa konsep dasarnya adalah menciptakan pengembunan dengan bantuan energi panas matahari. Setelah itu, proses pendinginan dilakukan untuk mendapatkan air layak minum.

"Langkah pertama adalah menyerap air di malam hari dengan menggunakan bahan pengering, kemudian menggunakan energi matahari di siang hari untuk menghasilkan udara panas dan lembap yang bisa didinginkan," kata Behdad Moghtaderi.

Moghtaderi menambahkan, semakin panas suhu udaranya akan semakin banyak air yang tertahan di udara. Apabila kita mendinginkan udara panas itu, kita akan mendapatkan air.

Proses yang dilakukan peneliti ini berbeda dengan siklus pengembunan yang biasa terjadi.  "Kandungan air di atmosfer biasanya terbentuk karena siklus pendinginan, di mana ada proses pendinginan udara hingga suhu tertentu sampai terjadi pengembunan. Kami merekayasa proses tersebut," kata Moghtaderi, dilansir dari kompas.com, Senin (16/04). Bahan pengering yang dipakai oleh tim Moghtaderi sama dengan pengering pada gel silika di kotak sepatu, yang membuat sepatu tidak diserang jamur.

Meski nantinya tidak menjadi juara di kompetisi, namun sang profesor bersama dengan timnya akan terus berusaha mewujudkan ide tersebut dan memastikan ketersediaan air minum bersih untuk semua. Para ahli berkata bahwa teknologi tersebut ramah lingkungan dan dapat bekerja di mana saja, khususnya di negara berkembang, serta tidak tergantung dengan kondisi iklim.

"Tidak ada bahan yang mahal dan penelitian tersebut benar-benar hasil dari pengamatan bagaimana udara menahan air, perubahan suhu yang terjadi dan bagaimana menemukan metode berdasarkan data yang diketahui," kata Elham Doroodchi, salah satu anggota penelitian.

Sementara itu, salah satu anggota panitia kompetisi XPRIZE mengatakan, di atmosfer terdapat lebih dari 3.000 triliun cadangan air yang belum terserap. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan air manusia di dunia selama satu tahun.

Sebagai informasi, tim Hydro Harvest Operation pimpinan Moghtaderi merupakan satu-satunya wakil dari Australia yang mencapai babak final kompetisi XPRIZE yang akan diadakan di bulan Agustus 2018 nanti.

Mereka akan bersaing dengan tim dari India, Amerika Serikat dan Inggris. Para finalis diminta untuk membuat alat yang dapat memproses minimum 2.000 liter air dari atmosfer per hari dengan menggunakan konsep 100 persen ramah lingkungan dan biaya yang tidak lebih dari 2 sen dollar Australia (sekitar Rp 200) per liter.

Komentar