No icon

Mengenal Ibadah I’tikaf di Bulan Ramadhan

Umat Islam mulai memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Biasanya, banyak masjid yang mulai dibuka 24 jam agar umat muslim dapat melaksanakan ibadah i’tikaf.

Bahkan beberapa masjid memberikan beberapa fasilitas yang lumayan menyenangkan untuk menarik hati para muslimin agar tidak berpaling mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan dan memilih untuk beri’tikaf saja.

I’tikaf adalah ritual favorit untuk menutup bulan Ramadhan karena Rasulullah dalam berbagai hadist telah menunjukkan keistimewaan ibadah ini, yaitu meraih malam lailatul qadar. Yuk kita kenali ibadah ini, agar ibadah kita lebih bermakna.

Makna i’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699). Ibnu Hazm rahimahullah berkata, I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Dengan kata lain, I’tikaf yaitu berdiam diri di masjid untuk beribadah pada Allah di malam-malam Ramadhan.

Hukum dan Dalil disyariatkannya i’tikaf

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.” [Al Mughni, 4/456]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” [HR. Bukhari no. 2044]

Waktu pelaksanaan i’tikaf

Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” [HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.

Durasi pelaksanaan i’tikaf

Banyak umat Islam yang mengupayakan waktunya untuk melakukan i’tikaf. Misal, malamnya i’tikaf di masjid dan siangnya kembali bekerja. Hukum melakukan seperti itu adalah di perbolehkan. Jumhur ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” [Al Inshof, 6/17]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.”

Allah berfirman, “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf dalam ayat ini. Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.

Kemudian di dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.”

Artinya tak ada hadits, maupun firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berisikan waktu tetap untuk beri’tikaf di masjid meskipun hanya sesaat, namun diniatkan i’tikaf maka dapat disebut i’tikaf.sudah

Tempat pelaksanaan i’tikaf

I’tikaf harus dilaksanakan di masjid, berdasarkan firman Allah “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).

Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali. Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa disyaratkan melakukan i’tikaf di masjid,” [Fathul Bari, 4/271]. Termasuk wanita, ia boleh melakukan i’tikaf sebagaimana laki-laki, tidak sah jika dilakukan selain di masjid. [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/13775]

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”

Para ulama selanjutnya berselisih pendapat masjid apakah yang dimaksud. Apakah masjid biasa di mana dijalankan salat jama’ah lima waktu ataukah masjid jami’ yang diadakan juga salat jum’at di sana?

Imam Malik mengatakan bahwa i’tikaf boleh dilakukan di masjid mana saja (asal ditegakkan salat lima waktu di sana, pen) karena keumuman firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah:187 tersebut.

Ini juga menjadi pendapat Imam Asy Syafi’i. Namun Imam Asy Syafi’i rahimahullah menambahkan syarat, yaitu masjid tersebut diadakan juga salat Jum’at [Al Mughni, 4/462]. Tujuannya di sini adalah agar ketika pelaksanaan salat Jum’at, orang yang beri’tikaf tidak perlu keluar dari masjid.

Kenapa disyaratkan di masjid yang ditegakkan salat jama’ah? Ibnu Qudamah mengatakan, “Salat jama’ah itu wajib (bagi laki-laki). Jika seorang laki-laki yang hendak melaksanakan i’tikaf tidak berdiam di masjid yang tidak ditegakkan salat jama’ah, maka bisa terjadi dua dampak negatif: (1) meninggalkan salat jama’ah yang hukumnya wajib, dan (2) terus menerus keluar dari tempat i’tikaf padahal seperti ini bisa saja dihindari. Jika semacam ini yang terjadi, maka ini sama saja tidak i’tikaf. Padahal maksud i’tikaf adalah untuk menetap dalam rangka melaksanakan ibadah pada Allah,”[ Al Mugni, 4/461].

Wanita boleh beri’tikaf

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari salat shubuh, beliau masuk ke tempat khusus i’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya,” [HR. Bukhari no. 2041].

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau,” [HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172].

Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian. [Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152]

Pembatal i’tikaf

  1. Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.

  2. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim)[ Fathul Bari, 4/272].

  3. Hal yang dimubahkan

    1. Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

    2. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.

    3. Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.

    4. Mandi dan berwudhu di masjid.

    5. Membawa kasur untuk tidur di masjid.

    6. Adab dan sunnah dalam i’tikaf

      1. Sebelum berdiam diri di dalam masjid disunnahkan melaksanakan salat sunnah tahiyatul masjid.

      2. Hendaknya ketika beri’tikaf, seseorang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, tilawah/mengkaji Al Qur’an, dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat [Shahih Fiqh Sunnah, 2/150-158].

      3. menghidupkan salat sunnah

      4. disunnahkan memperbanyak membaca doa “Allahumma Innaka ‘Afuwwun, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni“ (Ya Allah, bahwasanya Engkau menyukai pemaafan, karena itu maafkanlah aku)
        Tidak keluar kecuali untuk memenuhi hajat. Aisyah radhiallahu anha berkata, “Rasulullah tidak pulang ke rumah kecuali jika memiliki hajat jika sedang i’tikaf,” [HR. Bukhari, no. 2029, Muslim, no. 297]. Dalam riwayat lain disebutkan, “Kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia.” Az-Zuhri menafsirkannya sebagai “buang air kecil dan besar.”

      5. Selalu menjaga kebersihan diri dan masjid. Termasuk didalamnya memakai wangi-wangian.

      6. Membangunkan dan mengajak anggota keluarga untuk beri'tikaf

      7. Sumber: rumayho, suara muslim, islamqa.

Komentar