Warning: include(consig.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1

Warning: include(): Failed opening 'consig.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php70/usr/share/pear') in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1
Sifat Ujub Membawa pada Kehancuran
No icon

Kajian Rutin Bersama KH Cholil Hasin

Sifat Ujub Membawa pada Kehancuran

Pocimedia.com, Surabaya – Ujub atau membanggakan diri sendiri merupakan sifat yang harus dijauhi oleh umat Islam. Karena ujub bisa menghapus amal kebaikan atau pahala seseorang. Seseorang yang memiliki sifat ujub merasa dirinya ‘PALING’ segalanya, sehingga memandang rendah orang lain.

Imam besar al Ghazali mengatakan bahwa ujub merupakan kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tapa mengembalikan keutamaannya kepada Allah. Salah satu hadits nabi juga menyebutkan bahwa ujub masuk kategori sifat yang mengantarkan pada kebinasaan.

“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri),” H.R. Abdur Razaq, hadist hasan.

Selain menghapus amal kebaikan sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Cholil Hasin dalam sebuah majelis pagi (3/02), sifat ujub juga membawa kehancuran bagi pelakunya. Dilansir dari laman ummi-online.com (3/02), berikut akibat buruk bagi kita yang memelihara sifat ujub.

Menyebabkan Allah murka

Allah SWT murka kepada hambanya yang memilik sifat ujub. Karena mereka telah mengingkari karunia Allah yang seharusnya kita syukuri.  

Nabi SAW bersabda, “Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti rahmat Allah. Sedang seseorang yang merasa ujub, maka ia menanti murka Allah.” (HR. Baihaqi)

Terjerumus pada sikap ghurur (terperdaya) dan takabur

Orang yang kagum pada diri sendiri seringkali lupa melakukan instropeksi diri. Sehingga lambat laun menjadi penyakit hati. Mereka akan terbiasa meremehkan orang lain dan tidak mau menghormati orang lain. Itulah yang disebut takabur. Nabi SAWA bersabda, ”Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)

Gengsi menerima saran dari orang lain. Hatinya begitu keras sehingga tidak bisa menerima nasihat kebaikan dari orang lain.

Terlena dalam perbuatan dosa

Seseorang yang bersifat ujub tidak pernah menilai keburukan sikap dan kekurangan pada dirina. Akibatnya, dia selalu mengumbar keinginan hawa nafsunya dan tidak merasa kalau dirinya telah berbuat dosa.

 “Andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa sedikitpun, pasti aku khawatir kalau kalian berbuat dosa yang lebih besar, yaitu perasaan ujub,” HR. Al Bazzar

Dibenci orang lain

Pada dasarnya, setiap orang tidak suka terhadap perilaku yang membanggakan dan sombong. Sifat ujub akan menbawa manusia pada sifat buruk lain, yaitu kesombongan. Oleh karena itu, orang yang ujub cenderung tidak memiliki banyak teman. Bahkan, meski orang yang ujub itu berwawasan luas dan memiliki harta melimpah, dia tetap akan dijauhi oleh orang lain. Syeikh Mustafa As Sibai berkata, “Separuh kepandaian yang disertai tawadhu’ lebih disenangi oleh orang banyak dan lebih bermanfaat bagi mereka daripada kepandaian yang sempurna yang disertai kecongkakan.”

Mendapatkan kerugian di Akherat

Nabi bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebut-nyebut kembali pemberiannya, seorang yang durhaka, dan pecandu minuman keras.” (HR. Nasa’i)

Orang yang mempunyai sifat ujub biasanya suka mengingat atau mengungkit kembali apa yang sudah diberikan. Sahabat Umar r.a pernah berkata,”Siapapun yang mengakui dirinya berilmu, maka ia seorang yang bodoh dan siapapun yang mengaku dirinya akan masuk surga, maka ia akan masuk neraka.”

Disisi lain Qatadah berkata, “Barangsiapa yang diberi kelebihan harta, atau kecantikan, atau ilmu, atau pakaian, kemudian ia tidak bersikap tawadhu’, maka semua itu akan berakibat buruk baginya pada hari kiamat.”

Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan

Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Hey teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang yang teguh di atas perintah Allah AWT, mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Siapakah yang mampu lari dari hari kematian? Bukankah hari kematian hari yang telah ditetapkan? Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya. Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?

Nabi Muhammad SAW beserta para salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita umat Islam agar menjauhi sifat yang menyebabkan penyakit hati, salah satunya sifat ujub. Segala kebaikan yang kita peroleh sebenarnya berasal dari Allah SWT, bukan karena kekuatan atau kemampuan kita. Allah memiliki sifat Iradat (Maha berkehendak) yang kuasa atas apapun dunia ini.ash

Komentar