Warning: include(consig.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1

Warning: include(): Failed opening 'consig.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php70/usr/share/pear') in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1
Pesan Dibalik Dongeng Orang Alim dan Pezina
No icon

Catatan Fuad Amsyari

Pesan Dibalik Dongeng Orang Alim dan Pezina

Pocimedia.com, Surabaya - Alkisah, ada seorang alim yang tinggal berdampingan dengan pelacur. Setiap hari si alim itu membayangkan keburukan akhlak tetangganya karena terlalu sering berbuat zina. sementara si pelacur selalu berpikir positif terhadap si alim. Dia merasa bangga karena memiliki tetangga yang rajin beribadah, berperilaku baik. Sehingga muncul dalam hati kecil si pelacur keinginan untuk memiliki kebaikan sebagaimana si alim.

Singkat cerita, kedua orang itu meninggal dunia. Menariknya, orang yang begitu taat ibadah justru dimasukkan neraka karena selalu berfikir buruk terhadap perilaku pelacur. Sebaliknya, orang yang selalu berbuat maksiat itu justru masuk surga lantaran pandangan positifnya terhadap tetangga yang alim itu.

Pertanyaannya kemudian, apakah yang keliru dari narasi cerita diatas? Menanggapi ilustrasi diatas, salah satu tokoh cendekiawan Muslim Indonesia, Fuad Amsyari, PhD memberikan tanggapan yang dituliskannya di laman pribadinya, fuadamsyari.wordpress.com.

Setiap tulisan tentu memberi suatu pesan pada pembacanya, bukan asal tulis. Begitu pula dengan media yang memuat sebuah tulisan, tentu mengandung pesan ideologis.

Bagaimana hakekat kebenaran penilaian Allah swt terkait perbuatan makhlukNya? Apa nuansa yang terasakan dalam dongeng orang alim dan pelacur pada artikel tersebut? Terasa sekali di sana betapa ulama dipojokkan sementara pelaku pelacur direpresentasikan positif.

Dengan sederhana, penulis menyatakan bahwa pengadilan di akhirat hanya ditentukan oleh cara berpikir atau paradigma seseorang, tanpa melibatkan aspek lainnya, seperti akhlak keseharian. Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa penilaian akan nasib seseorang di akherat ditentukan oleh perbuatan nyata manusia dan bukan oleh apa yang sedang dikhayalkan di pikiran.

Al Qur’an surat An Najm ayat 39, tertulis bahwa manusia akan dinilai Allah dari perbuatan nyata. Dalam khasanah literatur di dunia Islam belakangan ini, akan banyak dijumpai dongeng yang mencoba merusak iman-ketaqwaan umat Islam. Bahkan musuh Islam mulai berani membuat hadits palsu dan menyelewengkan makna ayat Al Qur’an yang sudah jelas kandungan substansinya (muhkamat). Mereka sering membuat cerita-cerita lalu menyebarkan seolah itu adalah produk alim ulama masa lalu atau bahkan produk sahabat nabi. Astaghfirullah, berani benar mereka pada Tuhannya, atau mereka memang tidak bertuhan?

Seorang muslim yang baik harus waspada akan konten yang isinya membawa kerusakan umat Islam. Apalagi dengan perkembangan teknologi dan informasi yang senantiasa berubah, malah mempermudah kita untuk mengakses sekaligus memproduksi konten. Orang Yahudi misalnya, dia bisa saja membuat blog khusus yang tentang hukum syariat Islam. Bagimana dengan kualitas kontennya? Tentu saja patut dipertanyakan, karena bisa jadi informasi yang dituliskannya malah menyimpan misi besar untuk menyesatkan Umat Islam.

Merujuk pada kasus dongeng diatas, penulis menemukan adanya ketimpangan mencolok antara si alim dan pelacur. Secara tidak langsung dongeng diatas mengesankan bahwa seseorang boleh saja berbuat atau berperilaku buruk asalkan berfikir positif dan punya niatan untuk berbuat baik. Sebaliknya ulama sehebat apapun amaliahnya jika berfikiran negatif terhadap akhlak penjahat dan pelaku maksiat (pezina) akan dimasukkan neraka. Mana ada dalil begitu dalam ajaran Islam?

MUI, FPI, NU, Muhammadiyah, dan semua organisasi Islam apakah Orpol, Ormas, LSM Islam harus terus berjuang mengatasi segala kerusakan Bangsa dan Negara oleh pemikiran-pemikiran jahat yang merusak ajaran Islam yang benar. Bangsa ini mayoritasnya muslim (sekitar 90%), maka jika kualitas muslim di negeri ini rusak (apakah akidahnya, sosial ekonominya, kemampuan nalarnya oleh musuh-musuh Islam yang nyata maupun terselubung)  maka akan rusaklah bangsa-negara Indonesia.

Dokter sekaligus mantan aktifis salah satu partai politik itu menyeru agar kita semua menyelamatkan umat Islam dan bangsa dari kesesatan, kemaksiatan dan kemungkaran yang berujung pada kehancuran bangsa-negara ini. “Wahai kaum muslimin yang diberikan kelebihan oleh Allah swt, baik berupa kecerdasan, gelar, kekayaan melimpah, kekuasaan formal-informal, jangan mudah tertipu oleh keuntungan duniawi yang tidak seberapa. Sementara kita mengabaikan kesesatan agama, kemaksiatan kemungkaran yang justru akan menghancurkan akal-budi bangsa ini,” mengutip dari catatan tulisan Fuand di blognya.

Komentar