pocimedia
Muncul Robot Pembunuh seperti Terminator? Begini Tanggapan Para Pakar
Monday, 16 Apr 2018 03:19 am
pocimedia

pocimedia

Pocimedia.com, Surabaya – Apa jadinya jika terminator benar-benar ada di bumi? Pasti mengerikan bukan? Universitas di Korea berhasil mengembangkan robot pembunuh seperti terminator lho. KAIST bekerja sama dengan perusahaan Hanhwa System mengembangkan senjata militer seperti "Terminator" yang dianggap dapat melukai manusia.

Menanggapi adanya pengembangan robot yang mirip terminator itu, 57 pakar dari 30 negara melayangkan surat terbuka kepada Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Surat tersebut menginformasilan bahwa mereka tidak akan lagi mengunjungi atau berkolaborasi dengan universitas tersebut hingga KAIST menghentikan kerja sama dengan perusahaan senjata Hanhwa System.

Berdasarkan kabar yang diterima oleh para pakar, kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan senjata militer yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Langkah tersebut dinilai berlawanan dengan opini Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang berusaha mengantisipasi ancaman senjata otonom.

Selain itu, kerja sama tersebut dianggap dapat mempercepat realisasi skenario film The Terminator yang menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan Skynet bisa berbalik melawan manusia dalam usaha melindungi dirinya sendiri.

“Kami sangat menyesalkan bagaimana sebuah institusi bergengsi seperti KAIST berusaha mempercepat persaingan dalam mengembangkan senjata semacam ini," ujar para dilansir dari laman http://nationalgeographic.co.id, (16/04).

Menurut mereka senjata otonom punya potensi untuk menjadi senjata teror. Diktator dan teroris bisa menggunakan mereka terhadap populasi yang tidak bersalah, membuang semua batasan etika. “Jika sudah dibuka, kotak Pandora ini akan sulit untuk ditutup kembali,” kata mereka memperingatkan.

Lucas Apa, seorang konsultan keamanan dari firma keamanan siber IOActive, memahami kekhawatiran para pakar. Dia memberikan contoh bagaimana sebuah malfungsi robot menyebabkan kematian seorang pekerja pabrik pada 2016.

 “Seperti teknologi lainnya, kita mendapati bahwa teknologi robot tidak aman dari berbagai aspek. Sangat mengkhawatirkan bila kita sudah bergerak menuju kemampuan militer ofensif ketika keamanan sistem ini masih sangat kurang. Jika ekosistem robot masih rentan diretas, robot bisa jadi malah melukai kita,” katanya.

Menanggapi hal ini, presiden KAIST Sung Chul Shin berkata bahwa ini merupakan kesalahpahaman. “Sekali lagi saya tegaskan bahwa KAIST tidak akan melakukan aktivitas riset yang melawan kehormatan manusia, termasuk senjata otonom yang tidak memiliki kontrol manusia,” ujarnya.