Warning: include(consig.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1

Warning: include(): Failed opening 'consig.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php70/usr/share/pear') in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1
pocimedia
pocimedia
Seorang Ambivert Cocok Jadi Pemimpin Menjadi Ambivert di antara Penilaian Introvert vs Ekstrovert
Thursday, 14 Sep 2017 15:25 pm
pocimedia

pocimedia

Sebenarnya istilah introvert dan extrovert yang kita gunakan untuk mengukur kepribadian seseorang pertama kali di populerkan oleh seorang psikolog terkenal dari Swiss yang bernama Carl Gustav Jung (C.G Jung). Ia berpendapat bahwa konsep dan tolak ukur utama untuk melakukan analisa psikologi terhadap seseorang adalah dengan meneliti sifat individual mereka. Pada dasarnya setiap orang memiliki sisi introvert dan extrovert di dalam kepribadian mereka masing-masing. Akan tetapi, salah satu sisi akan muncul lebih dominan dalam karakter orang tersebut. Satu lagi yang lebih unik namun masih kalah populer dari intorvert dan extrovert, diantara keduanya ada istilah ambivert.

Menurut para psikolog, orang ambivert adalah mereka yang memiliki ciri-ciri ekstrovert dan introvert. Mereka yang tergolong ambivert disebut-sebut lebih baik dalam memahami emosi orang lain karena gabungan sifat terbuka dan tertutup tadi. Untuk mengenal orang ini, ada 10 fakta seputar kepribadian ambivert, seperti dilansir dari The Stir.

Sebenarnya, dalam mengukur apakah diri seseorang ekstrovert atau introvert itu seperti sebuah spektrum. Kalau diibaratkan, si ekstrovert berada di sebelah kanan dan si introvert berada di sebelah kiri. Lalu, bagaimana dengan mereka yang berada di antara kedua kutub tersebut? Mereka yang masuk ke dalam zona tengah ini dikenal dengan sebutan ambivert, seperti yang dibahas dalam The Wall Street Journal.

Nah, si ambivert ini seringkali terlupakan. Di saat banyak orang mendiskusikan si ekstrovert dan si introvert, mereka yang ambivert merasa bingung. Karena mereka tidak merasa benar-benar ekstrovert dan tidak sepenuhnya introvert. Banyak dari mereka, para ambivert, mengalami pergumulan batin seperti yang terpapar di bawah ini (lansiran Hipwee)

1. Kamu merasa nyaman berada di tengah kerumunan orang yang ramai. Tapi, kamu cenderung hanya mengamati dan tidak melakukan interaksi.

Mereka yang introvert biasanya akan merasa tidak nyaman dan membuat barikade pengaman jika harus berada di tengah sebuah kerumunan. Sedangkan kamu, sama seperti ekstrovert, tidak merasa gelisah bila harus berada di suatu tempat yang dipadati oleh khalayak ramai.

Hanya saja, kalau orang ekstrovert biasanya menikmati situasi tersebut dengan memulai percakapan dengan orang baru. Kamu justru menikmatinya dengan hanya sekadar mengamati sekitarmu saja. Kamu, sama seperti introvert, tidak berinisiatif untuk melakukan interaksi terlebih dahulu.

2. Kamu bisa merasa lelah setelah banyak bersosialisasi. Dan juga merasa gerah bila terlalu lama menyendiri.

Orang ekstrovert akan merasa hidup dan bersemangat apabila mereka bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. Dan akan merasa sangat suntuk jika mereka hanya berdiam diri sendirian. Sebaliknya, orang introvert justru mendapatkan energinya dari kesendirian dimana mereka bisa asyik bergelut dengan pikiran mereka sendiri.

Kamu yang ambivert, berdiri di antara keduanya. Kamu akan merasa jengah bila terlalu lama sendirian. Karena kamu juga membutuhkan adanya komunikasi dengan orang lain. Tapi, bersosialisasi dengan orang lain dalam kurun waktu yang lama juga bisa membuatmu merasa lelah dan kehabisan energi.

Kalau kamu sudah merasa seperti ini, berarti sudah waktunya bagimu untuk kembali ke duniamu sendiri dan mengecas ulang bateraimu yang sudah hampir mati.

3. Kepribadianmu bisa berubah tergantung dengan siapa kamu bicara.

Orang ambivert itu fleksibel. Kamu mampu menggeser kepribadianmu sesuai dengan siapa kamu bertukar kata. Kalau kamu sedang berbicara dengan si ekstrovert, maka kamu akan lebih berperan sebagai lawan bicara yang introvert. Kamu akan membiarkan mereka bercerita dan kamu akan lebih mendengarkan dengan setia.

Sedangkan jika kamu berhadapan dengan si introvert, maka kamu akan melakoni si pribadi yang ekstrovert. Kamu akan mengambil posisi yang lebih banyak berbicara, sementara mereka akan duduk manis dan menyediakan telinga. Dalam peran yang manapun, kamu si ambivert tidak akan merasa janggal.

4. Kamu bisa berkompromi dengan pembicaraan ringan dan basa-basi. Namun, kamu akan lebih tertarik ketika terlibat dalam percakapan yang mendalam dan spesifik.

Kamu yang ambivert tidak merasa malas meladeni sebuah pembicaraan kecil dan ringan, yang mungkin hanyalah sebuah basa-basi. Apa yang sedang terjadi di dalam dunia musik sekarang ini? Apa drama Korea yang lagi hits akhir-akhir ini? Kamu bisa ikut berbincang dan menikmati soal semua itu.

Tapi, kamu akan merasa jauh lebih bersemangat ketika percakapan tersebut mulai merujuk pada sebuah topik yang spesifik. Topik yang lebih mendalam dan sesuai dengan minatmu. Kamu lebih tertarik pada percakapan yang berbau filosofi. Sebuah percakapan yang membahas tentang kehidupan. Orang ambivert itu, seperti si introvert, biasanya adalah seorang deep conversationalist.

5. Dalam sebuah komunikasi, kamu tak selalu diam dan tak senantiasa bersuara. Kamu hanya menunggu waktu yang tepat saja.

Kamu tidak selalu diam seperti si introvert. Tapi, tidak juga senantiasa bersuara seperti si ekstrovert. Orang ambivert umumnya intuitif. Jadi kamu, si ambivert, tahu kapan saatnya harus angkat bicara dan kapan saatnya harus diam dan mendengarkan. Kamu akan melakukan keduanya secara bergantian di waktu yang tepat.

6. Bagimu, berkenalan dengan orang baru itu boleh-boleh saja. Berada di tempat baru juga baik-baik saja. Tapi, berkenalan dengan orang baru di tempat yang baru itu baru luar biasa.

Kamu itu seperti si ekstrovert yang suka dengan suasana baru. Tapi, juga seperti si introvert yang butuh sesuatu yang familiar. Makanya ketika kamu ingin pergi ke suatu tempat yang baru, kamu akan lebih suka pergi dengan orang yang sudah kamu kenal.

Dan jika kamu harus berkenalan dengan orang baru, kamu akan memilih untuk bertemu di tempat yang kamu sudah akrab. Berkenalan dengan orang baru di tempat yang baru akan terasa berlebihan dan membuatmu merasa kurang nyaman.

7. Kamu agak sulit memilih rencana akhir pekan. Pergi ke sebuah pesta mewah atau bergelut sendiri di rumah. Di antara keduanya, tidak ada masalah.

Sekali lagi, kamu bisa menjadi si ekstrovert yang terangsang oleh stimulasi dari luar. Dan juga bisa menjadi si introvert yang terangsang oleh stimulasi dari dalam. Jadi untuk urusan memutuskan rencana di akhir pekan, kamu akan merasa cukup kesulitan.

Pergi bersosialisasi ke luar atau bermalas-malasan di rumah, kamu suka dengan dua-duanya. Jadi ujung-ujungnya, kamu biasanya akan memutuskan berdasarkan pada mood yang sedang kamu rasakan. Tapi biasanya kalau kamu ingin pergi, kamu akan melontarkan pertanyaan ini: “Nanti yang datang ada siapa saja?”

8. Kadang kamu terlihat ambigu. Bergaul dengan mereka yang ekstrovert dan menepi bersama mereka yang introvert. Kamu bisa menyesuaikan diri.

Kamu bisa berbaur dengan para introvert dalam sebuah klub pecinta buku. Kamu juga begitu leluasa bercengkerama dengan para ekstrovert dari jurusan ilmu komunikasi. Kamu para ambivert mampu beradaptasi dengan mudahnya di setiap komunitas. Bukannya tidak konsisten, melainkan kamu bisa memahami masing-masing dari mereka. Jadi, tidak heran kalau teman-temanmu tidak hanya terpaku pada salah satu kubu.

9. Soal pekerjaan, kamu juga tidak begitu ambil pusing. Buat kamu, pengerjaan proyek secara berkelompok atau individu itu tidak ada bedanya.

Para ambivert tidak memiliki preferensi tersendiri mengenai cara penyelesaian sebuah proyek. Kalau orang ekstrovert biasanya lebih memilih untuk mengerjakannya secara berkelompok. Sedangkan orang introvert cenderung lebih suka untuk menyelesaikannya secara individu.

Tapi buat kamu yang ambivert, dua opsi ini tidak memberikan dampak yang berbeda. Bukannya bersikap apatis. Tapi, berkelompok ataupun individu, kamu tetap dapat mengerjakannya secara optimal.

10. Kesimpulan dari semua itu, kamu bingung menentukan apakah kamu termasuk ekstrovert atau introvert. Karena sesungguhnya, kamu memang dua-duanya.

Ambivert memiliki sisi kepribadian introvert dan extrovert yang seimbang. Dengan demikian seseorang yang ambivert cenderung merasa nyaman dengan kondisi yang penuh dengan interaksi sosial dan juga dapat menikmati kondisi saat mereka sendirian atau jauh dari keramaian.

Dengan adanya dua sisi kepribadian yang ada di dalam diri mereka, kelebihan diantara keduanya dapat dioptimalkan agar si ambivert lebih berhasil dalam menjalani kehidupan bersosial.

1. Bisa menyesuaikan diri

Ambivert berbaur dengan para introvert dalam sebuah klub pecinta buku. Begitupun sebaliknya, leluasa bercengkerama dengan para ekstrovert dari jurusan ilmu komunikasi.

Para ambivert mampu beradaptasi dengan mudahnya di setiap komunitas. Bukannya tidak konsisten, melainkan bisa memahami masing-masing dari mereka.

Jadi, tidak heran kalau teman-teman si ambivert ini tidak hanya terpaku pada salah satu kubu.

2. Bisa mengerjakan proyek kelompok atau individu

Para ambivert tidak memiliki preferensi tersendiri mengenai cara penyelesaian sebuah proyek.

Kalau orang ekstrovert biasanya lebih memilih untuk mengerjakannya secara berkelompok., sedangkan orang introvert cenderung lebih suka untuk menyelesaikannya secara individu.

Tapi para ambivert, tetap dapat mengerjakan pekerjaan kelompok maupun individu secara optimal.

3. Ambivert adalah seorang yang berpotensi sebagai pemimpin

Kepribadian extrovert yang baik dia akan cukup sigap dan tegas, mereka juga mudah dalam bergaul dan menyesuaikan diri dengan orang-orang sekitar. Si extrovert selalu mampu dalam mencairkan setiap suasana.

Sedang introvert, ia punya pemikiran yang analitis, kritis dan mempunyai kemampuan perencanaan yang matang secara terstruktur. Si introvert juga suka menjadi pendenganr yang baik.

Sedangkan ambivert, mereka mampu untuk melewati itu semua. Menjadi seorang extrovert dengan kelebihannya dan menjadi introvert dengan kelebihannya, karena semuanya sudah ada dalam diri ambivert. Meskipun begitu, semuanya tetap membutuhkan proses yang berupa pelajaran hidup dan pengalaman.

Pandanganan pada sebagian budaya masyarakat, ada yang menganggap tipe ekstrovert cenderung lebih disukai daripada introvert dengan anggapan bahwa mereka yang introvert memiliki kesehatan mental dan kehidupan yang kurang baik dibandingkan ekstrovert.

Namun hal itu tidak sepenuhnya benar karena tipe kepribadian introvert cenderung sama seimbangnya dalam hal kesehatan mental dan kehidupan dengan tipe ekstrovert.

Tetapi, terlepas dari itu, seorang introvert berhak mengembangkan kepribadiannya dan meraih kebahagiaannya. Kebahagian orang introvert bisa saja berbeda bentuknya dengan kebahagiaan menurut ekstrovert, sehingga seorang introvert tidak perlu merasa rendah diri.

Menurut pendapat pakar, mereka mengungkapkan bahwa tiap orang memiliki salah satu tipe kepribadian, apakah introvert ataukah ekstrovert. Tetapi mungkin butuh waktu untuk mengetahui apa tipe kepribadian sesungguhnya.

Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa tiap orang memiliki gabungan sisi ekstrovert dan sisi introvert dalam dirinya, meski salah satu sisi akan terlihat lebih dominan.

Jika kamu merasa bukan seorang ekstrovert atau introvert pada tingkatan ekstrem dalam skala kepribadianmu, kamu bisa saja bergeser tergantung kepada tahap kehidupan yang kamu jalani. Hal inilah yang dinamankan pembelajaran hidup.

Jika seseorang telah banyak belajar dari perjalanan dan pelajaran kehidupan yang mereka lalui, akan ada sikap dimana kedewasaan itu muncul. Seseorang yang sudah terbiasa akan siap menajalani kehidupan apapun sesuai dengan keadaannya.

Sumber artikel dari Hipwee.com, nationalgeographic.com, dan Virusbiru.com