No icon

Benarkah PR Bentuk Malpraktik Pendidikan Anak?

Suatu ketika salah seorang tetangga mengeluh lantaran anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar tiba-tiba mogok sekolah. Setelah ditanya alasannya, sang anak mengatakan bahwa dia tidak suka dengan Pekerjaan Rumah (PR) yang selalu diberikan oleh guru. Iseng-iseng sang ayah meminta seseorang untuk pergi ke sekolah lain. Rupanya ayah dari bocah kelas 5 SD itu berencana untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain. Lucunya, alih-alih tak ingin masalah terulang lagi, si ayah memastikan bahwa di sekolah baru tidak ada perintah untuk mengerjakan PR.

Bagi sebagian pembaca, sepenggal kisah diatas mungkin agak sedikit lucu dan aneh. Karena bagi kebanyakan orang, seorang pelajar atau siswa sudah terbiasa dengan yang namanya PR. Bahkan sejak memasuki Taman Kanak-Kanak (TK), kita sudah diberi PR oleh guru. Tujuannya agar para siswa mengingat kembali pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Namun benarkah PR itu berguna bagi anak-anak?

Sejumlah pakar edukasi menyatakan bahwa PR tidak memberikan dampak baik pada anak. Setelah kurang lebih delapan jam belajar di sekolah dan mereka pulang ke rumah untuk mengerjakan PR, dan itu menciptakan ketidakseimbangan dinamika emosional anak-anak. Terutama bagi mereka yang masih duduk di tingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

"Tidak ada bukti absolut yang memperlihatkan bahwa PR memberikan manfaat penting pada anak-anak TK dan anak SD," ujar Alfie Kohn, penulis TheHomework Myth: Why Our Kids Get Too Much of a Bad Thing kepada Pacific Standar Magazine, dilansir dari laman beritagar.id, (09/04).

Aktivis tersebut mengkritik keras sistem edukasi dan pola asuh yang menurutnya sudah kuno. Kohn menyakini bahwa anak-anak bisa tumbuh lebih baik tanpa PR. Bahkan, dia menyatakan PR merupakan bentuk malpraktik pendidikan anak.

Pandangan sama dikemukakan oleh Cathy Vatterott, seorang profesor di University of Missouri-St Louis dan penulis buku bertajuk Rethinking Homework: Best Practices That Support Diverse Needs. Dia mengungkapkan penelitian tentang manfaat PR sangat ambigu dan tidak menyediakan bukti valid.

Sementara itu pakar pendidikan lain yang meyakini PR tidak berdampak buruk pada kecerdasan anak, apalagi jika materi yang diberikan merangsang kreativitas dan berkualitas. Ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang ahli psikolog kesehatan otak anak di New York University, Dr Daniela Montalto: "Mengerjakan PR untuk anak sekolah dasar tidak terlalu penting, tetapi saya pikir, hal itu bisa mengembangkan kemampuan anak," jelas Daniela .

Kebutuhan anak-anak usir empat hingga 10 tahun menurut Daniela adalah belajar membaca selama 10 hingga 20 menit tiap harinya. Anak-anak juga membutuhkan waktu yang sama untuk membangun keterampilan motorik, seperti misalnya, menulis dan menggunting kertas. Model tersebut, kata Daniela, sangat penting sebagai fondasi tumbuh kembang kecerdasan anak dan lebih efektif ketimbang mengerjakan PR.

Sebuah penelitian yang digelar pada tahun 2006, oleh seorang profesor bernama Harris Copper menemukan bukti bahwa pelajar yang rajin mengerjakan PR memiliki nilai akademis lebih tinggi. Korelasi PR dan tingkat kecerdasan, menurut Copper, terlihat lebih jelas pada pelajar Sekolah Menengah Pertama dibandingkan anak SD. Keseluruhan pendapat dan studi akhirnya menyimpulkan bahwa jumlah tugas dan PR yang diberikan harus sesuai dengan usia anak.

Senada dengan pendapat pakar sebelumnya, seorang psikolog lain Dr Sanam Hafeez mengemukakan bahwa otak manusia memiliki batasan untuk bekerja dan belajar. Yaitu hanya mampu selama delapan jam per hari. Dan ketika pulang ke rumah, otak akan mengulang kembali semua informasi dan pengetahuan yang didapatkannya saat di sekolah,

"Pada dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan berpikir secara kritis. Itu semua lebih optimal dilakukan pada waktu yang lebih tenang, misalnya, saat beristirahat di rumah," papar Hafeez.

Komentar