Warning: include(consig.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1

Warning: include(): Failed opening 'consig.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php70/usr/share/pear') in /home/u8479251/public_html/pocimedia.com/index.php on line 1
Kolaborasi Desainer Muslimah Top Indonesia di Ajang LFW
No icon

Kolaborasi Desainer Muslimah Top Indonesia di Ajang LFW

Pocimedia.com, London – Industri fesyen tanah air semakin memperlihatkan taringnya di kancah internasional. Lolosnya lima desainer Indonesia Modest Fashion Designer (IMFD) di ajang Fashion Scout bagian dari London Fashion Week (LFW) Autumn/Winter 2018, menjadi barometer eksistensi fesyen Indonesia.

Kelima desainer tersebut adalah Jeny Tjahyawati, Lia Afif, Aisyah Rupindah Chan, Ratu Anita Soviah dan Tuty Adib. Kelima desainer tersebut lulus kurasi dan dibawa oleh House Of MEA yang merupakan agensi para desainer berbakat baik dari Asia maupun Timur Tengah. Masing-masing desainer membawakan enam koleksi terbaiknya dengan sentuhan wastra Nusantara.

Masing-masing desainer memiliki ciri khas atas rancangan busananya. Jeny Tjahyawati, terinspirasi dari Bunga Loppo, Jeny berusaha menyisipkan berbagai jenis bunga yang unik dan indah dari Indonesia. Jeny memproduksi dan memperluas ide-idenya menjadi koleksi yang indah modern, elegan dan bernuansa etnik. “Rincian koleksinya meliputi bordir, manik-manik, swarovsky dengan bentuk siluet A. Pola 3D pun tak luput dia gunakan untuk mempercantik koleksi ini,” ujarnya dilansir dari laman Majalah Kartini (21/2).

Sementara itu, karya Ratu Anita Sovia bertajuk “Kembali ke Alam”. Ratu Anita Soviah membawakan koleksi dari brand nya bernama Lentera. Sang perancang menampilkan kain Jumputan Palembang dengan Dobby. “Saya memilih pewarna alam untuk semua koleksinya dengan tekni tie dye. Warna pastel dia pilih karena memiliki kesan alam klasik dan alami,” kata Ratu.

Sama halnya Ratu Anita, Lia Afif juga mengangkat konsep natural dan elegan. Sang perancang menghadirkan koleksi busana muslim bertema Dhandaka Turqa yang merupakan gabungan bahasa Sanskerta dan Inggris. “Dhandaka berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya puisi sedangkan Turqa adalah bahasa Inggris yang merupakan turunan dari Turquoise. Koleksi tersebut mengangkat kain batik Trenggalek yang yang bercerita tentang budaya keaslian dan warisan nenek moyang,” jelas Lia.

Adapun Aisyah Rupindah Chan mengangkat tema Sikok, Aisyah Rupindah Chan terinspirasi oleh kebudayaan kota Jambi lewat brand Darabirra. Koleksi busana syar’i ini menampilkan gaya elegant dan feminin. Warna-warna lembut dengan gkseaya etnik melalui batik kota Jambi begitu memikat setiap koleksinya. “Perpaduan aksen bordir dengan motif batik Jambi memberikan keindahan yang begitu memesona bagi si pemakai,” ujar Aisyah.

Terakhir, Tuty Adib pada ajang Fashion Scout London kesempatan ini membawakan tema Basiba yang merupakan busana traditional dari Minangkabau, Sumatera Barat. “Koleksi tersebut menampilkan cuttingan yang unik dan modern. Busana muslim bergaya ready to wear ini menampilkan gaya elegan dan up to date. Siluet yang ditampilkan memiliki detail beads dan handcraft,” ujarnya. Dia mengenakan tenun Payakumbuh Sumatera Barat, yang memiliki keindahan pada motifnya juga sebagai kekayaan wastra Indonesia, pemakaian tenun atbm payakumbuh untuk lebih mengangkat kebudayaan wastra Indonesia khususnya pada ajang London Fashion Week, dan secara umum di industri fashion internasional, dikombinasikan sifon, satin, organdi, dan taffeta.

Komentar